Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () kembali menegaskan bahwa adalah ancaman nyata yang semakin memperparah kondisi cuaca ekstrem di Indonesia. Penegasan ini menyusul rekor curah hujan yang dipecahkan oleh Siklon Tropis Senyar yang melanda wilayah timur Indonesia pada akhir 2025 lalu.

Siklon Tropis Senyar tercatat menyebabkan curah hujan ekstrem di beberapa titik, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan intensitas mencapai lebih dari 350 milimeter dalam kurun waktu 24 jam. Angka ini merupakan rekor curah hujan tertinggi yang pernah tercatat sejak sistem pencatatan dimulai pada tahun 1991, mengindikasikan peningkatan signifikan dalam kejadian hidrometeorologi ekstrem.

Dampak dan Peringatan BMKG

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada awal Februari 2026, menyatakan keprihatinannya terhadap tren cuaca ekstrem ini. “Data kami menunjukkan peningkatan signifikan dalam kejadian ekstrem. Siklon Senyar adalah bukti nyata bagaimana perubahan iklim memperparah kondisi cuaca,” ujar Dwikorita. Ia menambahkan bahwa fenomena ini harus menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak untuk memperkuat upaya adaptasi dan mitigasi.

Dampak dari Siklon Senyar sendiri cukup luas, meliputi banjir bandang, tanah longsor, serta kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan di beberapa kabupaten di NTT dan Maluku. Sektor pertanian juga mengalami kerugian signifikan akibat terendamnya lahan dan gagal panen. Kejadian ini mengingatkan kembali pada Siklon Tropis Seroja yang pada April 2021 lalu juga menyebabkan kerusakan masif di NTT.

Peran Perubahan Iklim dan Antisipasi

BMKG menjelaskan bahwa perubahan suhu permukaan laut yang lebih hangat di perairan tropis menjadi salah satu faktor pemicu utama intensifikasi siklon tropis. Kondisi ini membuat Indonesia, sebagai negara kepulauan yang dikelilingi perairan hangat, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan kementerian terkait telah mengaktifkan respons darurat serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. BMKG sendiri terus memantau pergerakan siklon dan secara proaktif mengeluarkan peringatan dini untuk meminimalkan risiko bencana.

Masyarakat di daerah rawan bencana diimbau untuk selalu memantau informasi terbaru dari BMKG dan mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. BMKG memproyeksikan tren cuaca ekstrem akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang jika upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tidak diperkuat secara komprehensif.