Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di mayoritas kota besar di Indonesia pada Selasa, 28 April 2026. Hujan tersebut diprakirakan dapat disertai kilat dan angin kencang di beberapa wilayah.

Prakirawan BMKG, Diah Ayu R, menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh daerah konvergensi yang memanjang dari perairan utara Papua, Samudra Pasifik utara Papua, hingga ke sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, perairan utara Nusa Tenggara Barat, Laut Sulawesi, Sulawesi Tengah, Laut Flores, Maluku, Laut Arafuru, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Fenomena ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi.

Beberapa kota besar yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang meliputi Padang, Mataram, Palu, dan Nabire. Sementara itu, hujan ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di Banda Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Palangka Raya, Banjarmasin, Tanjung Selor, Samarinda, Denpasar, Makassar, Mamuju, Kendari, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya, dan Merauke.

Adapun kota-kota besar lain seperti Pekanbaru, Jambi, Pangkal Pinang, dan Kupang diprakirakan hanya akan mengalami kondisi berawan sepanjang hari ini.

Peringatan Kemarau Panjang dan Risiko Karhutla

Di tengah potensi hujan ini, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq sebelumnya telah memperingatkan Indonesia akan menghadapi musim kemarau panjang. Peringatan tersebut disampaikan pada Rabu, 22 April 2026, mengenai proyeksi kemarau hingga tujuh bulan dengan curah hujan terendah dalam 30 tahun terakhir, yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menteri LH Hanif menekankan pentingnya mitigasi dan persiapan. “Di tahun 2026 ini sesuai proyeksi dari BMKG, kita akan mengalami masa kemarau yang panjang, mencapai puncak sekitar bulan Agustus-September 2026, baru akan berakhir bulan November 2026. Ada tujuh bulan yang akan kita hadapi (sejak April), dengan tingkat curah hujan akan berada pada kondisi paling rendah selama 30 tahun,” ujar Menteri LH Hanif.

Hanif Faisol Nurofiq juga mengingatkan seluruh jajaran dan pemangku kepentingan terkait untuk terus melakukan mitigasi hingga persiapan, mulai dari operasi modifikasi cuaca hingga memfokuskan kesiapsiagaan karhutla di enam provinsi prioritas, yaitu Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.