Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Kepulauan Riau (Kepri) masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada hari Jumat, 20 Februari 2026. Kondisi ini merupakan bagian dari pola cuaca yang umum terjadi selama periode puncak musim hujan di wilayah tersebut.
Puncak Musim Hujan dan Faktor Pemicu
Prakiraan cuaca ini didasarkan pada analisis kondisi atmosfer terkini yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas awan konvektif di sebagian besar wilayah Kepri. Februari sendiri merupakan salah satu bulan yang masuk dalam periode puncak musim hujan di Kepulauan Riau, yang biasanya berlangsung dari Oktober hingga April.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, dalam keterangan terpisah, menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti labilitas atmosfer yang tinggi dan adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) di sekitar wilayah Kepri turut memicu pembentukan awan-awan hujan. Selain itu, pengaruh Monsun Barat Laut juga masih signifikan dalam membawa massa uap air dari Samudra Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Kepri.
Potensi Dampak dan Imbauan Kewaspadaan
Hujan dengan intensitas tinggi berpotensi menyebabkan genangan air di beberapa titik rendah, terutama di kawasan perkotaan seperti Batam dan Tanjungpinang. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lokal dan tanah longsor, khususnya bagi yang tinggal di daerah dataran rendah atau lereng bukit.
Selain hujan, BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang yang dapat menyertai hujan lebat. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas di darat maupun laut. Untuk sektor maritim, gelombang tinggi juga perlu diwaspadai di perairan sekitar Kepri, termasuk Laut Natuna Utara, Selat Malaka, dan perairan Anambas. Nelayan dan operator transportasi laut diminta untuk selalu memantau informasi cuaca maritim sebelum berlayar.
Suhu dan Kelembapan
Secara umum, suhu udara di Kepulauan Riau diprakirakan berkisar antara 24 hingga 32 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan udara yang cukup tinggi, yakni antara 65 hingga 98 persen. Kondisi ini menciptakan suasana yang cenderung lembap dan hangat, namun dengan potensi perubahan cuaca yang cepat.
BMKG akan terus memperbarui informasi prakiraan cuaca dan mengeluarkan peringatan dini jika ada potensi cuaca ekstrem yang signifikan. Masyarakat dianjurkan untuk mengakses informasi resmi dari BMKG melalui berbagai kanal yang tersedia.
