BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) akan memasuki musim kemarau mulai Mei 2026. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel, Wandayantolis, di Palembang pada Senin (29/3/2026), menjelaskan bahwa beberapa wilayah di Sumsel berpotensi mengalami kemarau lebih awal dari daerah lain. “Berdasarkan analisis iklim, puncak musim kemarau lebih dulu terjadi di Zona Musim (ZOM) 125 dan 135. Wilayah ini berpotensi mengalami puncak kemarau lebih awal satu bulan,” kata Wandayantolis.
ZOM 125 mencakup Palembang, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, Muara Enim, dan Ogan Ilir. Sementara itu, ZOM 135 meliputi wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.
Sebanyak 12 ZOM lainnya di Sumatera Selatan diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Namun, untuk ZOM 137 yang meliputi Pagar Alam, Lahat bagian selatan dan barat, sebagian kecil Musi Rawas bagian selatan, serta sebagian kecil Empat Lawang bagian timur, puncak kemarau diprediksi terjadi lebih lambat sekitar satu bulan dari kondisi normal.
Durasi musim kemarau di Sumatera Selatan tahun ini diperkirakan berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian, atau sekitar tiga hingga lima bulan. Wandayantolis menambahkan, “Wilayah Sumsel bagian tengah diprediksi mengalami kemarau terlama, yakni sekitar 13 hingga 15 dasarian.”
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, terutama potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta keterbatasan air bersih. Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk dalam pengendalian titik panas dan pengelolaan sumber daya air guna meminimalkan dampak selama periode musim kemarau.
