Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan posisi hilal awal Ramadhan 1447 H masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian minus 1,268 derajat pada Selasa (17/2). Kondisi ini terpantau melalui Pusat Observasi Bulan di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mengindikasikan hilal belum dapat teramati secara jelas.
“Tinggi hilal minus 1,268 derajat dan elongasi 1,208 derajat,” kata Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan dalam laporannya di Mataram, Selasa (17/2). Sumawan menegaskan, dengan posisi Bulan yang masih di bawah garis horizon dan elongasi yang sangat kecil tersebut, hilal secara astronomis tidak bisa teramati secara jelas.
Menurutnya, secara umum hilal berpotensi terlihat jelas jika berada di atas ufuk dengan ketinggian positif dan memiliki elongasi minimal sekitar 6 hingga 7 derajat.
BMKG NTB juga telah menyiapkan titik rukyatul hilal di Pantai Loang Baloq, Kota Mataram. Kegiatan pengamatan hilal tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu (18/2) pukul 17.00 WITA. Untuk pengamatan hari ini, Sumawan menerangkan bahwa tinggi hilal diperkirakan telah mencapai 8,287 derajat dengan elongasi 11,588 derajat.
Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) telah menggelar sidang isbat penetapan awal bulan Hijriah di Jakarta pada Selasa (17/2). Hasil sidang isbat tersebut akan menjadi dasar resmi pemerintah pusat dalam menetapkan awal puasa Ramadhan untuk masyarakat Indonesia, yang diperkirakan dimulai Kamis, 19 Februari 2026.
Kementerian Agama bersama BMKG melakukan pemantauan hilal secara serentak pada 133 titik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Rinciannya, 96 titik dipantau oleh Kementerian Agama dan 37 titik dilakukan oleh BMKG.
