Dua anak harimau hasil penangkaran di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) dilaporkan mati akibat terjangkit virus panleukopenia. Peristiwa ini terjadi setelah Pemerintah Kota Bandung (Pemkot Bandung) resmi mengambil alih pengelolaan kebun binatang tersebut pada awal Februari 2026.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan Pemkot Bandung bergerak cepat menangani insiden ini. Berdasarkan hasil observasi tim medis, virus panleukopenia diduga telah menginfeksi kedua satwa sejak Februari 2026.

“Kami bertanggung jawab. Virus itu bisa datang dari mana saja,” kata Farhan saat meninjau Kebun Binatang Bandung pada Kamis (26/3).

Untuk mencegah kejadian serupa, Farhan menegaskan Pemkot Bandung akan memperketat standar biosecurity guna meminimalkan penyebaran penyakit. Pengawasan terhadap keberadaan hewan liar yang diduga menjadi media penularan juga akan diperketat.

“Pemberian vaksin juga tidak boleh terlewat,” ujarnya.

Tim dokter Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, drh. Agnisa, menjelaskan bahwa upaya penyelamatan telah dilakukan secara kolaboratif. Penanganan melibatkan tim medis dari Rumah Sakit Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, serta tim internal Kebun Binatang Bandung.

Agnisa mengungkapkan, salah satu anak harimau sempat menunjukkan tanda-tanda vital yang membaik selama pemeriksaan. Secara teoritis, satwa tersebut bahkan dinilai telah melewati masa kritis dan memperlihatkan peluang untuk pulih.

“Kami sempat senang karena melihat ada perbaikan dan berharap bisa pulih lagi. Kami tunggui terus sejak kemarin,” kata Agnisa.

Namun, saat pergantian piket pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB, petugas melaporkan anak harimau kedua juga mati. Sebelum mati, satwa itu menunjukkan gejala klinis berupa muntah dan diare disertai darah pada feses.

“Hasil tes dari sampel feses menunjukkan kedua anakan harimau ini positif terpapar panleukopenia,” jelas Agnisa.

Ia menjelaskan, virus panleukopenia memiliki masa inkubasi yang bervariasi. Oleh karena itu, sangat mungkin virus sudah masuk ke dalam tubuh satwa sejak lama, tetapi baru memunculkan gejala ketika kondisi imunnya melemah.

“Bisa jadi virus sudah masuk ke dalam tubuh sejak lama, namun baru bangkit dan menimbulkan gejala saat kondisi imun satwa sedang lemah,” ujarnya.

Terkait sumber penularan, BBKSDA belum bisa memastikan asal virus tersebut. Meski demikian, Agnisa menegaskan harimau lain, termasuk induknya, dalam kondisi sehat dan tidak terjangkit. Ia menduga usia kedua anak harimau yang baru sekitar delapan bulan membuat mereka lebih rentan terhadap serangan virus.

Pasca-kejadian itu, pengelola bersama Pemkot Bandung langsung melakukan langkah sterilisasi, mulai dari penyemprotan disinfektan hingga pembersihan kandang secara intensif. Area sekitar kandang juga dijaga ketat agar tetap steril, dan petugas tidak diperbolehkan masuk tanpa prosedur keamanan yang ketat.

Sebagai informasi, Pemkot Bandung resmi mengambil alih pengelolaan Kebun Binatang Bandung sejak 5 Februari 2026. Pengambilalihan dilakukan setelah Kementerian Kehutanan mencabut izin lembaga konservasi Yayasan Margasatwa Tamansari, pengelola sebelumnya, akibat sengketa lahan dan persoalan manajemen yang berkepanjangan.