Tim SAR gabungan terus mengintensifkan upaya pencarian terhadap Hajib (55), seorang nelayan yang dilaporkan hilang di perairan sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kabupaten Gresik. Operasi pencarian diperluas dengan mengerahkan armada helikopter untuk melakukan pemantauan dari udara, Rabu (06/05/2026).
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya sekaligus Search Mission Coordinator (SMC), Nanang Sigit P.H., memimpin langsung manuver udara ini. Ia didampingi oleh Kepala Seksi Operasi, Didit Arie R. Helikopter BASARNAS jenis Dauphin AS365 N3+ HR 3601 lepas landas dari Skuadron 400 Wing Udara II Juanda dan segera menyisir titik koordinat perairan Gresik.
“Pemantauan udara mencakup area seluas sekitar 16 nautical mile square (mil laut persegi). Langkah ini menjadi bagian penting dalam mendukung operasi SAR guna menjangkau area yang lebih luas dan memantau kondisi permukaan laut secara menyeluruh,” jelas Nanang Sigit.
Selain pemantauan udara, pergerakan taktis di jalur laut juga dilakukan secara simultan. Operasi pencarian membagi kekuatan menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) yang bertugas menyisir perairan di dua sektor berbeda sesuai dengan peta operasi (SAR Map).
SRU 1 bermanuver melakukan penyisiran di area seluas 3,85 mil laut, sementara SRU 2 menyisir area seluas kurang lebih 1,84 mil laut. Armada yang dikerahkan meliputi perahu karet (rubber boat) serta kapal patroli milik Ditpolairud Polda Jawa Timur.
Komandan Tim Rescue Kantor SAR Kelas A Surabaya yang bertugas di lapangan, Chandra Kriatyawan, membeberkan bahwa operasi laut ini berhadapan dengan risiko tinggi. Kendala utama yang dihadapi petugas adalah titik area pencarian yang beririsan langsung dengan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).
“Area pencarian ini sangat padat lalu lintas. Kami harus bermanuver dengan ekstra hati-hati karena banyaknya kapal-kapal besar niaga yang melintas di alur tersebut,” terang Chandra.
Untuk menyiasati luasnya area perairan dan potensi kendala, Tim SAR gabungan juga menerapkan strategi komunikasi. Mereka menyebarluaskan informasi (broadcast) kepada kapal-kapal dan nelayan tradisional yang melintas di sekitar lokasi kejadian. Harapannya, mereka dapat segera melapor jika melihat tanda-tanda atau objek yang mencurigakan terkait keberadaan korban.
