Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tengah melakukan asesmen kerusakan pascabanjir yang menerjang tiga kecamatan di wilayah tersebut. Banjir terjadi akibat cuaca ekstrem dan intensitas hujan tinggi sejak Senin (23/2) hingga Selasa (24/2).
Kepala BPBD Lombok Tengah, Ridwan Maruf, menyatakan bahwa pendataan dampak bencana sedang berlangsung. “Pascaterjadi bencana alam tersebut, kami sedang melakukan pendataan dampak yang ditimbulkan,” kata Ridwan di Lombok Tengah pada Rabu (25/2).
Berdasarkan data sementara, banjir melanda Kecamatan Pujut, Praya Barat, dan Praya Timur. Hujan deras yang berlangsung selama dua hari dua malam menyebabkan meluapnya air sungai dan menggenangi rumah warga serta beberapa ruas jalan, termasuk di wilayah Desa Kuta.
“Kondisi saat ini air telah mulai surut,” ujar Ridwan. Ia juga memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, sekitar 1.500 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak banjir di berbagai desa di tiga kecamatan tersebut.
Selain banjir, angin kencang juga dilaporkan terjadi dan mengakibatkan kerusakan pada rumah warga di Kecamatan Batukliang.
Waspada Potensi Cuaca Ekstrem Lanjutan
Ridwan Maruf mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengingat sebagian besar wilayah Lombok Tengah kini telah memasuki periode musim hujan, sementara sebagian kecil lainnya masih dalam masa peralihan musim.
“Potensi hujan cukup signifikan pada 10 hari mendatang, sehingga masyarakat dihimbau agar memperhatikan kebersihan dan debit di wilayah aliran air. Masyarakat perlu mewaspadai potensi hujan ekstrem dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah sendiri masih memberlakukan status darurat bencana hingga Maret 2026, menggarisbawahi perlunya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
