Dampak cuaca ekstrem dan banjir yang melanda Pekalongan sejak Jumat (16/1) telah melumpuhkan ratusan usaha konfeksi dan industri batik. Situasi ini memaksa pabrik-pabrik meliburkan ratusan karyawannya karena tidak dapat berproduksi, sementara ratusan pengrajin batik juga menghentikan aktivitas mereka.
Pantauan pada Minggu (18/1) menunjukkan bahwa ratusan pengrajin batik di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, terpaksa menghentikan kegiatannya. Cuaca ekstrem dan banjir merendam rumah, ruang produksi, serta ruang pamer mereka, menyulitkan segala bentuk aktivitas.
Sejumlah pabrik konfeksi, termasuk produsen sarung palekat khas Pekalongan, juga menghentikan produksinya dan meliburkan karyawan. Ketinggian air yang mencapai 50 sentimeter di area produksi menjadi penyebab utamanya. “Seharusnya masuk kerja jarebavdi sini pabrik libur hari Jumat,” kata Irawan (40), seorang pekerja di rumah industri batik.
Mawardi (30), pekerja lainnya, mengungkapkan bahwa ribuan karyawan di rumah industri batik di Kota Pekalongan, mulai dari bagian cap, celup, pencucian, hingga pengemasan, tidak dapat bekerja. Selain ruang produksi yang terendam, mereka juga tidak bisa melakukan penjemuran.
Abdullah, seorang pengusaha batik di Pekalongan, menuturkan bahwa banjir besar kali ini menyebabkan banyak rumah industri batik terendam. Meskipun ada beberapa yang aman karena bangunan sudah ditinggikan, aktivitas penjemuran tetap terhambat akibat intensitas hujan yang masih tinggi. “Jika dihitung merugi karena biasanya dapat memproduksi hingga beberapa ratus meter per gari bernilai hingga jutaan rupiah, tetapi sekarang libur semua, tapi mau bilang bagaimana lagi kondisi seperti ini,” ujar Abdullah.
Hal senada disampaikan Wahid, pengusaha batik lainnya di Kota Pekalongan. Menurutnya, kerugian akibat banjir ini sangat besar. Selain tidak dapat berproduksi, penjualan juga terhenti karena ruang pamer dan toko kebanjiran, serta tidak ada pembeli yang datang. Padahal, orderan konfeksi, terutama batik, dari berbagai daerah bahkan luar negeri, biasanya meningkat pesat menjelang persiapan puasa dan Lebaran. “Biasanya jauh-jauh hari pesanan sudah mulai berdatangan dan dilakukan pengiriman, tetapi akibat banjir ini belum dapat berproduksi,” imbuhnya.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menjelaskan bahwa banjir yang merendam daerah di Pantura Jawa Tengah ini masih tinggi, sekitar 50-100 sentimeter. Kondisi ini melumpuhkan aktivitas warga karena tidak hanya merendam ribuan rumah dan jalan utama, tetapi juga berdampak pada 8.692 keluarga.
Budi Suheryanto menambahkan, selain mengakibatkan hampir 1.000 jiwa mengungsi, banjir juga merendam sentra usaha seperti Pasar Grosir Batik Sentono, kampung batik Poncol, Noyontaansari, Medono, Tirto, dan Klego. Akibatnya, banyak usaha batik yang menghentikan produksinya. “Saat ini, bersama instansi terkait berusaha mengurangi banjir seperti menutup tanggul jebol dan fokus utama adalah penyelamatan warga dengan evakuasi ke tempat aman,” tutur Budi Suheryanto.
