MANADO – Sebanyak 747 jiwa terpaksa mengungsi setelah banjir merendam sejumlah permukiman di Kota Manado, Sulawesi Utara. Bencana ini dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang menyebabkan meluapnya saluran air di wilayah hilir.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, secara keseluruhan terdapat 314 Kepala Keluarga (KK) atau 968 jiwa yang terdampak langsung oleh banjir ini. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa sebagian besar dari mereka harus dievakuasi.

“Sebanyak 215 kepala keluarga atau 747 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (30/5).

Wilayah Terdampak dan Kerusakan

Luapan air dilaporkan merendam sedikitnya 468 unit rumah warga dengan ketinggian yang bervariasi. Berdasarkan data BNPB, cakupan wilayah terdampak tersebar di lima kelurahan yang berada di bawah administrasi empat kecamatan, antara lain:

  • Kecamatan Wanea: Kelurahan Pakowa
  • Kecamatan Tikala: Kelurahan Paal IV
  • Kecamatan Paal Dua: Kelurahan Dendengan Dalam
  • Kecamatan Wenang: Kelurahan Komo dan Kelurahan Ternate Tanjung

Kondisi Terkini dan Penanganan Darurat

Hingga Jumat (29/5) sore, genangan banjir di sejumlah titik dilaporkan mulai surut. Warga secara bertahap telah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa material lumpur yang terbawa arus.

BNPB memastikan bahwa penanganan logistik dan penyediaan tempat penampungan darurat telah diakomodasi oleh petugas gabungan di lapangan. Langkah ini diambil untuk menjamin kebutuhan dasar para pengungsi, seperti makanan dan perlengkapan darurat, tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.

Meskipun air mulai surut, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan. Kondisi saluran air di beberapa titik yang belum mampu menampung debit air secara maksimal saat intensitas hujan ekstrem dapat kembali memicu luapan drainase.

(Ant/I-1)