Banjir yang melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah, belum menunjukkan tanda-tanda surut setelah hampir tiga pekan. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan ribuan warga terdampak dan mengungsi, tetapi juga memicu lonjakan kasus leptospirosis yang telah merenggut empat nyawa.
Dampak Banjir dan Ribuan Warga Mengungsi
Hingga Minggu (1/2), banjir masih merendam 45 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Pati. Kecamatan-kecamatan tersebut meliputi Pati (4 desa), Juwana (8 desa), Kayen (5 desa), Jakenan (7 desa), Sukolilo (3 desa), Gabus (13 desa), dan Dukuhseti (5 desa), dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 80 sentimeter.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati mencatat, sebanyak 2.921 rumah warga yang dihuni 3.988 keluarga atau 10.939 jiwa terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, 432 keluarga atau 1.060 jiwa masih bertahan di pengungsian. Pemerintah daerah terus berupaya melakukan penanganan cepat.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, menjelaskan, “Banjir masih merendam, selain intensitas hujan yang masih tinggi terutama di kawasan Gunung Muria, juga air laut pasang (rob) masih berlangsung.”
Lonjakan Kasus Leptospirosis Ancam Warga Terdampak
Selain kesulitan akibat banjir, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati juga melaporkan lonjakan kasus penyakit leptospirosis. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui urin hewan tikus ini telah menyebabkan kematian.
Sepanjang Januari 2026, Dinkes Pati mencatat 35 orang terjangkit leptospirosis di sejumlah kecamatan seperti Juwana, Jaken, Margoyoso, Trangkil, Dukuhseti, Batangan, hingga Wedarijaksa. Sebagian besar penderita merupakan warga berusia lanjut (lansia), dan empat di antaranya meninggal dunia.
Ketua Tim Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Yanti, mengungkapkan bahwa jumlah kasus leptospirosis akibat banjir kali ini sudah lebih dari separuh total kasus sepanjang tahun 2025 yang mencapai 61 kasus dengan 17 kematian. “Pada tahun lalu terbanyak terjadi pada Februari-Maret,” tambahnya.
Mengenali Gejala dan Upaya Pencegahan Leptospirosis
Yanti menjelaskan, keterlambatan penanganan menjadi faktor utama penyebab fatalitas penyakit ini. Gejala leptospirosis sering kali dianggap remeh oleh masyarakat karena menyerupai penyakit biasa, akibat ketidaktahuan warga terhadap penyakit yang berasal dari bakteri Leptospira.
Bakteri ini ditularkan melalui urin atau darah hewan, antara lain tikus, anjing, kucing, babi, kambing, sapi, dan kuda. “Bakteri itu biasanya mencemari tanah dan umum terjadi di wilayah tropis, terutama saat terjadi banjir dalam waktu yang cukup lama,” ujar Yanti.
Penderita leptospirosis umumnya memiliki gejala demam, sakit kepala, mata merah, nyeri betis, lemas, hingga kulit kekuningan. Dampak terparahnya adalah gagal ginjal yang bisa berujung pada kematian jika tidak segera ditangani dengan antibiotik.
Sebagai langkah preventif, Dinkes Pati telah menginstruksikan petugas di seluruh Puskesmas untuk melakukan desinfeksi pada area genangan air pascabanjir, menggunakan deterjen pembersih rumah tangga yang dinilai efektif membasmi bakteri namun tetap aman bagi lingkungan. “Selain itu Dinkes Pati juga meminta warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala penyakit akibat banjir tersebut,” imbuhnya.
