Pembalap Ducati Lenovo Team, Francesco Bagnaia, mengungkapkan kebingungannya terhadap performa motor Desmosedici GP26 di awal musim MotoGP 2026. Juara dunia dua kali itu menyebut adanya masalah misterius yang hanya muncul saat balapan, meskipun performanya terlihat sangat kompetitif di sesi latihan.

Awal musim 2026 menjadi periode yang mengecewakan bagi Bagnaia. Dari dua seri pembuka di Thailand dan Brasil, ia baru mengumpulkan 10 poin dan kini terdampar di posisi ke-13 klasemen sementara. Hasil terbaiknya sejauh ini adalah finis kedelapan pada sprint race di Goiania, Brasil.

Di Buriram, Thailand, Bagnaia hanya mampu finis kesembilan baik di sprint maupun balapan utama. Kondisinya semakin memburuk di Brasil setelah ia gagal finis akibat kecelakaan di lap ke-11 saat berada di posisi ke-11, tepat di belakang pembalap LCR Honda, Johann Zarco.

Kontras Performa Latihan dan Balapan

Hal yang paling membingungkan bagi Bagnaia adalah perbedaan drastis antara sesi latihan dan balapan. Sepanjang tes pramusim hingga sesi latihan bebas (FP) dan pemanasan (warm-up), ia selalu merasa nyaman dan mampu bersaing di barisan depan. Namun, performa tersebut seolah menghilang saat memasuki balapan utama.

“Sejak awal musim—mulai dari tes hingga sekarang—selain saat balapan, saya selalu punya feeling yang bagus,” ujar Bagnaia. Ia menilai situasi ini tidak normal dan membutuhkan analisis lebih dalam untuk menemukan akar masalah yang sebenarnya.

Bagnaia mengidentifikasi beberapa masalah utama yang muncul saat balapan, terutama pada fase pengereman dan kestabilan motor di tikungan. Menurutnya, Ducati GP26 sulit dikendalikan saat deselerasi, membuatnya kesulitan menjaga kecepatan ideal saat masuk tikungan. Selain itu, grip ban belakang juga terasa tidak konsisten.

“Kami kesulitan menghentikan motor dengan baik dan menjaga kecepatan di tikungan. Grip belakang juga tidak stabil,” ungkapnya. Menariknya, masalah tersebut tidak ia rasakan saat sesi latihan, yang semakin mempertegas bahwa ada faktor spesifik yang hanya muncul dalam kondisi balapan.

Masalah Bagnaia diperparah oleh insiden di sesi kualifikasi MotoGP Brasil. Ia terjatuh di Q2 dan gagal mencatatkan waktu terbaik, sehingga harus memulai balapan dari posisi ke-11. Start dari barisan tengah membuatnya kesulitan mengembangkan ritme balap, sebelum akhirnya kembali mengalami kecelakaan saat race.

Ducati Akui Masih Cari Solusi

Manajer tim Ducati, Davide Tardozzi, mengakui bahwa tim belum sepenuhnya memberikan paket motor yang mampu menghadirkan kepercayaan diri bagi Bagnaia. Padahal, potensi Ducati GP26 cukup terlihat dari performa pembalap lain.

Rekan setimnya, Marc Marquez, berhasil memenangkan sprint race di MotoGP Brasil 2026, sementara Fabio Di Giannantonio dari tim VR46 mampu meraih podium di balapan utama. Hal ini menunjukkan bahwa motor memiliki potensi, namun belum sepenuhnya cocok dengan karakteristik Bagnaia saat balapan.

Situasi ini mengingatkan pada musim 2025, ketika Bagnaia juga mengalami kesulitan beradaptasi dengan motor Ducati GP25, terutama dalam hal pengereman. Perubahan teknis seperti suspensi depan dan perangkat ride height kala itu disebut memengaruhi kepercayaan dirinya saat mengendarai motor. Kini, meski sempat merasa lebih nyaman saat tes pramusim dengan GP26, masalah serupa kembali muncul—bahkan dengan pola yang lebih membingungkan.

Dengan musim yang masih panjang, peluang Bagnaia untuk bangkit tetap terbuka. Namun, ia harus segera menemukan solusi atas masalah misterius yang hanya muncul saat balapan jika ingin kembali bersaing di papan atas dan merebut gelar juara dunia MotoGP 2026.