Aktivitas vulkanik dan kegempaan Gunung Slamet dilaporkan meningkat signifikan, mendorong penutupan sementara seluruh jalur pendakian gunung yang membentang di lima wilayah Jawa Tengah. Kebijakan ini mulai berlaku pada Sabtu, 4 April 2026, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi musibah dan bencana.

Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, menegaskan bahwa penutupan dilakukan demi keselamatan para pendaki. “Penutupan jalur pendakian di Gunung Slamet dilakukan karena peningkatan aktivitas vulkanik yang terdeteksi di kawah gunung demi keselamatan pendaki,” ujar Sugeng Utomo pada Sabtu (4/4).

Sugeng menambahkan, jalur pendakian akan dibuka kembali setelah kondisi dipastikan aman dari aktivitas vulkanik yang meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, ditandai dengan seringnya gempa dan asap yang teramati keluar secara terus-menerus.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengonfirmasi peningkatan aktivitas vulkanis di area kawah Gunung Slamet sejak Jumat, 3 April 2026. Kepulan asap yang teramati keluar secara terus-menerus mengindikasikan adanya aktivitas degassing atau pelepasan gas-gas magmatik dari magma ke permukaan melalui kawah.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi KESDM, Lana Saria, menyoroti peningkatan suhu kawah yang drastis. Dari sekitar 247,4 derajat Celsius pada September 2024, suhu kawah kini melonjak hingga 411,2 derajat Celsius per 2 April 2026. “Kenaikan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah,” imbuh Lana.

Lana Satria menjelaskan, sebaran anomali panas yang pada tahun 2024 masih terlokalisir di bagian pusat kawah, kini pada tahun 2026 telah berkembang menjadi lebih luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah. Perubahan pola panas ini mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan di dalam kawah yang memperkuat aktivitas pelepasan gas magmatik.

Dari sisi kegempaan, Lana Satria mengungkapkan bahwa aktivitas juga tercatat meningkat. Pada periode 16 Maret hingga 3 April 2026, alat seismograf merekam ratusan gempa, termasuk 866 gempa hembusan dan 620 gempa frekuensi lemah yang terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam. Fenomena ini berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik.

Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Slamet Muhammad Rusdi, memaparkan hasil pemantauan deformasi. Magma telah melewati reflektor yang berada di Stasiun Cilik di 1516 mdpl menuju kedalaman lebih dangkal di Stasiun Bambangan 1878 mdpl. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh gunung yang berpotensi memicu erupsi.

Muhammad Rusdi memperingatkan, “Terdapat tiga potensi bahaya yang diwaspadai dalam radius 2 kilometer dari kawah yakni erupsi freatik, lontaran material pijar akibat erupsi magmatik dan paparan gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi.”

Dengan kondisi ini, warga yang berada di lereng Gunung Slamet untuk sementara dilarang mendekati kawah dan tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak.

Jalur Pendakian Gunung Slamet yang Ditutup Sementara

  1. Jalur Bambangan (Purbalingga): Jalur terpopuler dan tercepat, namun menanjak terjal sejak awal.
  2. Jalur Baturraden (Banyumas): Dikenal sebagai “jalur naga” dengan vegetasi hutan lebat dan minim area landai. Jalur terjal dan menantang, disarankan 3 hari 2 malam.
  3. Jalur Guci (Tegal): Jalur yang lebih tenang dengan pemandangan asri, populer di kalangan pendaki yang mencari ketenangan.
  4. Jalur Gunung Malang (Purbalingga): Jalur berbasis konservasi, relatif baru dan sepi.
  5. Jalur Dipajaya (Purbalingga): Alternatif dengan 9 pos yang melintasi berbagai tipe vegetasi.
  6. Jalur Kaliwadas (Brebes): Jalur yang sering digunakan dari sisi Brebes.
  7. Jalur Cemara Sakti (Pemalang): Dimulai dari Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, melewati hutan lebat, jalan berbatu, dan pemandangan pegunungan yang menenangkan.