Kendal Tornado FC secara resmi memindahkan markas kandang mereka dari Stadion Jatidiri, Kota Semarang, ke Stadion Sriwedari, Solo, mulai awal tahun 2026. Keputusan ini cukup mengejutkan para suporter berjuluk Badai Pantura, mengingat sebelumnya mereka mengawali Liga Championship di Semarang yang relatif dekat dengan Kabupaten Kendal.
Dengan kepindahan ini, Stadion Jatidiri Semarang kini hanya akan menjadi kandang bagi PSIS Semarang, yang juga berkompetisi di Liga Championship. Meski berpindah ke stadion dengan kapasitas lebih kecil, Badai Pantura optimistis dapat tampil lebih baik dalam pertandingan selanjutnya.
Aprianto: Kembali ke Rumah Sendiri
Gelandang Tornado FC, Aprianto, menyambut baik keputusan manajemen. “Saya malah lebih senang dengan kepindahan Tornado FC ke Stadion Sriwedari Solo ini, karena banyak kenangan saat memulai karier di ajang nasional darivsini,” ujar Aprianto, pemain asal Sumbawa Barat yang turut membawa Tornado FC naik kasta ke Liga Championship.
Menurut Aprianto, kepindahan ke Stadion Sriwedari Solo ini terasa seperti kembali ke rumah sendiri. Pasalnya, Badai Pantura juga menjadikan stadion berkapasitas 12.000 penonton tersebut sebagai kandang mereka saat mengawali kompetisi Liga 2.
Pada lanjutan kompetisi Liga Championship 2025/2026, Kendal Tornado FC yang saat ini berada di peringkat keempat dengan 23 poin, akan menjamu PSS Sleman pada Senin (5/1), Persipal Palu pada Senin (19/1), dan Persiku Kudus pada Minggu (25/1) di Stadion Sriwedari Solo.
Alasan di Balik Keputusan Pemilik Klub
Pemilik Kendal Tornado FC, Junianto, yang juga memiliki 15 persen saham di PSIS Semarang, menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan agar atmosfer sepak bola Kota Semarang bisa lebih fokus mendukung PSIS Semarang, sehingga tim berjuluk Laskar Mahesa Jenar itu dapat berkembang pesat.
Junianto, yang akrab disapa Anto Van Java, menambahkan bahwa kandang asli Kendal Tornado FC, Stadion Utama Kebondalem Kendal, saat ini belum memenuhi standar untuk menggelar pertandingan Liga Championship. Selain itu, stadion tersebut juga direncanakan akan menjalani renovasi total mulai Maret 2026.
Pemilihan Stadion Sriwedari, lanjut Junianto, didasari oleh nilai historis dan emosional bagi tim Laskar Badai Pantura. Stadion yang dibangun pada tahun 1946 tersebut merupakan simbol semangat olahraga dan salah satu stadion tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga kini.
“Stadion Sriwedari adalah warisan cagar budaya sekaligus saksi perjalanan sepak bola, tempat ini juga menemani langkah awal kami meraih prestasi musim lalu. Kini kami kembali menjadikannya rumah sementara hingga akhir musim,” pungkas Junianto.
