Potensi besar Kopi Arabika Sembalun, yang dijuluki “emas hitam,” kini kembali dilirik para pemuda dan petani milenial di Sembalun, Lombok Timur. Komoditas ini menjanjikan stabilitas ekonomi di lahan-lahan kering yang sebelumnya terabaikan. Namun, jalan menuju pasar internasional masih terjal akibat tingginya biaya logistik dan perizinan ekspor.

Rusmala, seorang penggiat kopi lokal, mengungkapkan bahwa minat terhadap kopi bukan sekadar tren, melainkan respons cerdas terhadap perubahan gaya hidup dan pesatnya pariwisata di Sembalun. “Kopi itu tidak hanya sebagai oleh-oleh atau sekadar untuk diminum, tapi sekarang saya lihat itu menjadi gaya hidup. Selama empat tahun terakhir harganya tidak pernah turun, bahkan harga green bean stabil di angka Rp100 ribu hingga Rp200 ribu,” ujarnya pada Rabu (18/2/2026).

Keterbatasan lahan subur yang semakin terkuras oleh tanaman hortikultura mendorong petani beralih ke pemanfaatan lahan kering. Rusmala menjelaskan, mereka kini menanam varietas Ateng Super yang lebih produktif dan lebat buahnya, menggantikan varietas lokal lama seperti Typica yang produksinya menurun. Karakter rasa unik kopi Sembalun dipengaruhi oleh ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun kualitas akhir sangat bergantung pada ketelitian proses pasca-panen.

“Yang menentukan kualitas itu selain varietas dan ketinggian, yang paling krusial adalah proses pasca panennya. Jika salah proses, kualitasnya bisa turun drastis,” tegas Rusmala. Ia juga mengkritik fokus penyuluhan yang dianggap timpang, meminta petugas penyuluh lapangan (PPL) untuk lebih intensif mengedukasi sektor perkebunan di empat desa utama: Sembalun Bumbung, Sembalun Lawang, Sembalun Timba Gading, dan Desa Sembalun. “PPL yang ada di Sembalun, jangan hanya fokus pada petani hortikultura saja, liriklah petani kopi juga,” cetusnya.

Neli Pujiawan, petani kopi milenial Sembalun yang telah berkecimpung sejak 2017, memaparkan efektivitas sistem tanam pagar. “Dengan sistem pagar, satu hektar bisa menampung lebih dari 4.000 pohon. Jika satu pohon menghasilkan setengah kilogram, potensinya bisa mencapai 2 ton per hektar,” jelas Neli. Dengan harga pasar saat ini, pendapatan dari kopi bisa menyentuh angka Rp500 juta per hektar, dengan perawatan yang jauh lebih minim dibanding sayuran.

Tantangan Ekspor Kopi Sembalun

Meski potensi pasar sangat menggiurkan, Neli Pujiawan menyebutkan bahwa jalan menuju pasar internasional masih sangat terjal. Biaya logistik dan perizinan ekspor yang selangit menjadi penghambat utama bagi petani lokal untuk menembus pasar global.

“Kendala kita hanya ke luar negeri. Biaya pengiriman dan izin bisa mencapai Rp160 ribu per kilo. Sangat tidak mungkin kita ekspor kalau biayanya setara bahkan melebihi harga beli,” harap Neli. Ia pun menyampaikan harapan besar kepada pemerintah agar mempermudah izin dan menekan biaya pengiriman. “Kami berharap pemerintah mempermudah izin dan menekan biaya pengiriman agar kopi Sembalun bisa mendunia,” pungkasnya.