Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan forum bisnis Indonesia–Jepang yang dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang, menjadi momentum krusial untuk mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Penguatan investasi dan inovasi disebut sebagai kunci utama untuk mencapai tujuan tersebut.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Selasa (31/3/2026), menyampaikan bahwa forum yang berlangsung di The Imperial Hotel, Tokyo, Senin (30/3/2026), ini mempertemukan para pelaku usaha dari kedua negara. Pertemuan ini bertujuan memperkuat kerja sama strategis di berbagai sektor prioritas, termasuk energi hijau dan terbarukan, manufaktur, ekonomi digital, serta ketahanan pangan dan energi.

Anindya Bakrie, yang akrab disapa Anin, menekankan pentingnya peningkatan hubungan panjang antara Indonesia dan Jepang ke level yang lebih progresif. Hal ini diperlukan untuk menjawab tantangan global dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Indonesia harus keluar dari middle income trap. Dan salah satu caranya ialah dengan investasi dan inovasi supaya pertumbuhan bisa lebih daripada sebelumnya,” kata Anin.

Lebih lanjut, Anin juga menyoroti adaptasi dunia usaha di tengah dinamika global, termasuk dampak konflik geopolitik yang memengaruhi stabilitas ekonomi. “Kita mengerti dan sensitif, bahwa sekarang pada saat ini kita fokus bergerak ke mana dengan berani hasil daripada perang di tengah-tengah. Tapi kami yakin masih ada jalan. Nah, jadi ini juga suatu hal yang bisa dibicarakan antara kedua negara untuk mengembangkan lebih baik lagi. Intinya bagaimana kita bisa bertahan dalam bisnis ini,” ujarnya.

Senada dengan Anindya, Ketua Komite Bilateral Jepang Kadin Indonesia, Muhammad Lutfi, turut menegaskan urgensi penguatan investasi sebagai fondasi kemitraan kedua negara ke depan. “Kemitraan Indonesia-Jepang ke depan harus terus mendorong investasi, menuju value co-creation yang konkret, di mana kolaborasi industri, energi, dan rantai pasok global secara langsung akan mendorong pertumbuhan, inovasi, dan daya saing Indonesia,” pungkas Lutfi.

Dalam forum tersebut, sejumlah nota kesepahaman (MoU) strategis diumumkan, dengan total nilai perdagangan Indonesia-Jepang mencapai sekitar 23,6 miliar dolar AS. Kerja sama ini mencakup berbagai sektor, mulai dari energi, industri, teknologi, hingga keuangan.

Beberapa kesepakatan penting meliputi kerja sama perdagangan dan investasi antara Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI) dan Kadin Indonesia, pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela oleh INPEX dan PT Pertamina (Persero), serta pengembangan ekosistem semikonduktor, energi panas bumi, dan pembentukan dana leasing aviasi.

Forum ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperdalam kemitraan strategis Indonesia-Jepang. Upaya ini juga memanfaatkan revisi Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) dan momentum World Expo Osaka 2025, guna menciptakan peluang investasi yang konkret dan berkelanjutan bagi kedua negara.