Sutradara Anggy Umbara kembali membuat terobosan dalam industri perfilman Indonesia dengan proyek terbarunya, 402: Rumah Sakit Angker Korea. Film ini merupakan adaptasi resmi dari horor fenomenal Korea Selatan, Gonjiam: Haunted Asylum, dan menandai kali pertama Anggy menggarap film berkonsep found footage di tanah air.
Anggy Umbara dan Komitmen Inovasi
Anggy Umbara menegaskan komitmennya untuk selalu menghadirkan karya inovatif yang belum pernah dilakukan sineas lain di Indonesia. Setelah sebelumnya menjajal genre heist hingga time-loop, kali ini ia menantang diri dengan konsep found footage.
“Ya secara personal sih emang saya berkomitmen kepada diri saya sendiri ya dari dulu memang pengen bikin sesuatu, pengen bikin film yang breakthrough, yang belum pernah dilakukan di Indonesia gitu ya. Nah ini pertama kali juga saya membuat konsep found footage, film horor dengan found footage,” ujar Anggy saat konferensi pers 402: Rumah Sakit Angker Korea pada 16 April 2026.
Ia menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep tersebut. “Jadi kalau yang belum tahu found footage itu di sini yang memegang kamera semuanya itu diceritanya adalah para pemainnya sendiri gitu lho. Jadi nggak kita arahkan seperti rata-rata film horor di Indonesia dan di dunia gitu lho,” tambahnya.
Tantangan Teknis dan Puluhan Kamera
Proses produksi film ini diakui Anggy sebagai salah satu pengerjaan teknis paling rumit sepanjang kariernya. Kesulitan utama terletak pada pengaturan puluhan kamera yang harus dioperasikan langsung oleh para pemain saat berakting.
“Kita di sini memakai 28 kamera setiap syuting. Itu 28 kamera kita tempel, satu orang pakai dua kamera, ada yang memegang tiga kamera gitu,” cerita Anggy.
Setiap aktor dibekali beberapa kamera yang menempel di tubuh maupun yang dipegang manual untuk menangkap setiap sudut kejadian. Hal ini membuat Anggy harus memantau banyak layar monitor untuk memastikan visual yang presisi.
“Jadi begitu kita hitung, wah ini banyak banget lebih dari 20 gitu. Ada ya 22 kamera kecil, terus ada tiga Panasonic, terus ada DSLR. 28 kamera itu saya kalau syuting nih itu monitornya banyak banget segini. Kayak lagi liat CCTV gitu,” ungkapnya.
Persiapan Matang dan Eksplorasi Kreatif
Tuntutan akting dalam film ini sangat tinggi, sebab para pemain harus menjaga kestabilan gambar tanpa menghilangkan emosi karakter. Anggy merasa sangat terbantu dengan teknologi kamera yang mendukung mobilitas tinggi para pemeran selama di lokasi.
Persiapan matang selama dua tahun dilakukan untuk memastikan ekosistem produksi lokal mampu memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Anggy merasa sangat gembira karena akhirnya ia bisa mewujudkan impian menggarap film dengan gaya visual yang menantang ini.
“Dan itu harus tepat gitu akting-nya nggak boleh kelebihan, nggak boleh kurang gitu kan. Nah ini merupakan film yang sangat-sangat challenging sih secara teknikal dan itu excites me a lot gitu. Jadi thanks lagi dengan Pak Manoj yang udah memberikan kesempatan buat eksplorasi ini,” pungkas Anggy Umbara.
