Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Aminurlah, mendesak gerakan penanaman pohon kemiri secara berkala dan berkelanjutan. Langkah ini dinilai krusial untuk memulihkan kondisi hutan kritis di Kabupaten Bima yang terus memburuk.
“Pengembalian fungsi hutan kemiri di kawasan yang sudah gundul itu keharusan, tidak bisa ditawar. Ini bukan hanya soal ekologi, tapi juga menyangkut masa depan ekonomi masyarakat,” tegas Aminurlah di Mataram, Senin.
Aminurlah menyoroti kerusakan hutan, khususnya di kawasan pegunungan dan daerah aliran sungai (DAS), sebagai pemicu utama bencana banjir dan tanah longsor yang berulang kali melanda wilayah Bima. Berdasarkan hasil peninjauan lapangan di Kecamatan Wawo, Ambalawi, Parado, Lambitu, hingga wilayah pegunungan lainnya, pembabatan hutan masih terus terjadi dan cenderung meluas.
“Saya turun langsung ke gunung dan melihat kondisi sungai-sungai kita. Pembabatan hutan makin masif. Kalau dibiarkan, bencana akan terus datang,” ujarnya prihatin.
Ia memperkirakan luas hutan yang rusak di wilayah tersebut telah mencapai sekitar 800 hektare. Menurutnya, pemulihan hutan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui strategi jangka panjang yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Pria yang akrab disapa Haji Maman ini mengusulkan agar pemerintah daerah bersama DPRD NTB merancang program distribusi bibit kemiri secara rutin ke desa-desa yang berada di kawasan rawan bencana. “Kemiri ini bisa menjadi gerakan ekonomi hijau. Kita menjaga alam, sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ucapnya.
Melalui pokok-pokok pikiran (Pokir), Aminurlah mengaku telah menginisiasi gerakan tanam kemiri dengan menyalurkan sekitar 19 ribu bibit pohon kemiri di Kecamatan Wawo, Parado, dan Lambitu. “Di musim hujan ini, momentum paling tepat untuk menanam kemiri di gunung-gunung yang sudah gundul,” tambahnya.
Aminurlah menjelaskan, pohon kemiri memiliki manfaat ganda. Selain mampu memperbaiki struktur tanah dan menjaga keseimbangan lingkungan, biji kemiri juga bernilai ekonomis tinggi dan berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan.
“Harapannya, gerakan tanam kemiri ini menjadi simbol kebangkitan ekologi dan ekonomi masyarakat Bima, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga hutan demi generasi mendatang,” pungkasnya.
