Hingga hari ketiga Ramadan, ratusan ribu penyintas banjir di Sumatra, khususnya di wilayah pedalaman Aceh Tengah dan Aceh Tamiang, masih harus menjalani ibadah puasa di tengah tumpukan lumpur dan kayu gelondongan sisa air bah. Janji pemerintah untuk menyediakan hunian sementara (huntara) sebelum Ramadan belum terealisasi, memaksa puluhan ribu korban bertahan di bawah tenda pengungsian darurat.
Janji Huntara Tak Kunjung Terealisasi di Aceh Tengah
Di Desa Kute Reje, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, misalnya, dari 87 keluarga yang terdampak, hanya empat unit rumah yang tersisa. Sebanyak 83 rumah lainnya ludes tersapu banjir. Warga Kute Reje kini terpaksa menumpang ke Desa Delung Sekinul karena desa asal mereka hancur total dan tidak bisa ditempati lagi. Seluruh lokasi perumahan rata dengan tanah, dan lahan persawahan tertimbun lumpur serta kayu.
Kondisi ini diperparah dengan akses jalan yang sangat sulit. Jalur darat satu-satunya menuju Kecamatan Linge, yang berjarak sekitar 80 kilometer dari Kota Takengon, ibu kota Aceh Tengah, sangat ekstrem, terjal, dan berlumpur saat hujan. Jembatan darurat penyeberangan sungai di Desa Kala Ili juga rusak dan terbawa arus deras. “Sedih kali lihatnya waktu ke sana,” ujar Rahmy Zulmaulida, Dosen UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe sekaligus aktivis relawan di Aceh Tengah, pada Jumat (20/2/2026).
Hanya sepeda motor trail atau kendaraan 4×4 yang didesain khusus yang bisa melintas untuk mengangkut logistik, itu pun jika cuaca mendukung dan arus sungai mereda.
Krisis Kemanusiaan di Aceh Tamiang
Situasi serupa juga dialami 1.200 warga penyintas banjir di Desa Seumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka masih terpaksa tidur di tenda pengungsian darurat karena huntara yang dijanjikan belum jelas keberadaannya. Masyarakat membangun gubuk-gubuk kecil menyerupai kandang ternak dari seng, kayu, dan papan bekas sisa banjir di lokasi bekas rumah mereka yang hanyut.
Sedikitnya 260 keluarga di Desa Seumur harus menjalani ibadah Ramadan di atas lumpur tebal dan di antara celah tumpukan kayu gelondongan. Satu-satunya bangunan yang tersisa dan berfungsi adalah masjid, yang menjadi pusat ibadah salat berjemaah lima waktu dan salat tarawih.
Di tengah ibadah puasa, krisis kemanusiaan semakin terasa dengan kelangkaan air bersih dan bahan makanan. Pasokan kebutuhan pokok yang diklaim pemerintah tidak sampai ke tangan warga. Kelangkaan gas elpiji 3 kg memaksa mereka memasak nasi dengan ranting kayu di atas tanah berlumpur. Warga korban banjir kini lebih mengharapkan kepedulian relawan atau donatur pribadi, menunjukkan kekecewaan dan kepasrahan mereka.
Ancaman Masa Depan Aceh Pasca-Banjir
Budayawan dari Universitas Syiah Kuala, Aceh, M Adli Abdullah, mengaku sangat prihatin melihat kondisi di lokasi banjir. Ia menyaksikan pemandangan menyayat hati di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, di mana anak-anak yang sebelumnya rajin sekolah kini ramai-ramai mendekati mobil pengunjung untuk meminta makanan atau kebutuhan harian.
“Bahkan mereka jadi pengemis dan meminta-minta, ada bawaan apa dari pengunjung yang bisa dimakan atau digunakan untuk kebutuhan harian. Sungguh menyedihkan kondisinya. Kelalaian kita yang berbuat dosa dan membiarkan mereka terus begitu berarti akan menuai kehancuran masa depan sebuah negeri yang sebelnya sejahtera dan makmur,” tutur Adli Abdullah.
Menurut Adli, ada dua ancaman besar yang menyelimuti masa depan Aceh akibat bencana ini: hancurnya dunia pendidikan dan ancaman kemiskinan yang disebabkan oleh rusaknya sendi dan struktur perekonomian.
