PALU, Senin (01/06/2026) – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar gerakan sosial dengan membagikan 10 ribu paket makanan siap saji. Aksi kemanusiaan ini menyasar anak-anak panti asuhan dan warga prasejahtera di Kota Palu, Minggu (31/5/2026), sebagai upaya nyata untuk meningkatkan nilai inklusivitas dan toleransi.
Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud konkret dari peran agama di tengah masyarakat. “Agama tidak boleh hanya terjebak dalam ruang ritual di dalam rumah ibadah, melainkan harus turun ke jalan untuk menjawab persoalan kemanusiaan di tingkat akar rumput,” ujar Prof. Zainal dalam kesempatan tersebut.
Menurutnya, gerakan sosial yang digagas Bamag Sulteng ini adalah contoh nyata keragaman dalam memperkuat toleransi umat beragama. FKUB Sulteng memberikan apresiasi penuh dan turut mengawal kegiatan ini untuk memastikan nilai inklusivitas berjalan optimal. “Pengurus kami, keterwakilan dari majelis-majelis agama, kompak bergerak bersama, bahu-membahu mendata panti asuhan seluruh agama di Kota Palu dan sekitarnya,” jelas Zainal.
Pembagian bantuan makanan secara merata kepada seluruh panti asuhan lintas iman, kata Zainal, membawa pesan edukasi sosial yang berharga. Ia menekankan bahwa pengokohan nilai inklusi harus dibangun dengan kesadaran moral, tanpa memandang latar belakang agama, mengingat kehidupan sosial yang majemuk. “Oleh karena itu perbedaan keyakinan tidak perlu diperdebatkan, karena itu datangnya dari sang pencipta. Toleransi lahir dari kesadaran menghargai dan menghormati satu sama lain,” ucap Wakil Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar (PB) Alkhairaat itu.
Prof. Zainal Abidin juga mengemukakan bahwa gerakan ini merupakan praktik moderasi beragama yang paling autentik dalam membangun kebersamaan melalui aksi sosial kemanusiaan. “Rasa lapar itu tidak memiliki agama, dan air mata kesusahan itu rasanya sama. Ketika kita berbagi makanan ke seluruh panti asuhan tanpa memandang latar belakang keyakinan, kita sedang menegaskan bahwa di hadapan kemanusiaan, kita semua berbicara dengan bahasa yang sama,” tuturnya.
Ia menambahkan, upaya mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih aman dan harmonis dapat dicapai melalui gerakan sosial kemanusiaan. Agama, menurutnya, hadir bukan untuk peperangan atau permusuhan, tetapi untuk perdamaian, kemaslahatan, serta kesejahteraan umat manusia. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur universal yang telah berhasil dipraktikkan di lingkungan sosial masyarakat harus terus dijaga dan dirawat demi keharmonisan umat beragama yang lebih hidup.
Sementara itu, Ketua Bamag Sulteng, Hendrik G. Lyanto, menjelaskan bahwa gerakan 10 ribu paket makanan ini murni lahir dari panggilan moral dan ketulusan jajaran organisasi keagamaan yang dipimpinnya. Tujuannya adalah membantu meringankan beban hidup sesama di tengah situasi ekonomi yang dinamis.
“Gerakan kami lakukan menyasar masyarakat yang kurang mampu, fakir miskin, anak-anak panti asuhan, hingga para pengasuh panti yang tanpa lelah mendedikasikan hidup mereka. Kami berharap aksi sosial ini bermanfaat dan bisa memicu gelombang kebaikan serupa dari elemen-elemen lainnya di Sulteng,” kata Hendrik.
