Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Senin (11/5/2026) pagi. Erupsi kali ini melontarkan kolom abu setinggi 800 meter di atas puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan bahwa erupsi terjadi pada pukul 08.15 WIB. Dengan ketinggian puncak 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), maka tinggi kolom abu teramati berada pada posisi 4.476 mdpl.
“Kolom abu vulkanik teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 122 detik,” kata Sigit dalam laporan tertulisnya.
Sebelum letusan besar pada pukul 08.15 WIB, Gunung Semeru tercatat telah mengalami dua kali erupsi pada dini hari, yakni pukul 00.18 WIB dan pukul 05.58 WIB. Namun, pada dua kejadian awal tersebut, visual letusan tidak teramati secara jelas.
Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Status Level III (Siaga). Pihak berwenang terus memantau perkembangan aktivitas magma dan potensi bahaya yang ditimbulkan bagi pemukiman di lereng gunung.
Rekomendasi Keamanan bagi Warga Sekitar
Dalam status Siaga, masyarakat diimbau untuk mematuhi rekomendasi keamanan yang telah ditetapkan:
- Dilarang melakukan aktivitas di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak di sektor tenggara.
- Dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi awan panas dan aliran lahar hingga 17 km.
- Dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak karena rawan lontaran batu pijar.
Masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru. Sigit menekankan pentingnya menghindari area sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
“Waspadai juga potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan pada Selasa (12/5/2026), belum ada laporan mengenai dampak kerusakan atau korban jiwa akibat rangkaian erupsi yang terjadi sejak Senin dini hari tersebut.
