Para petani padi di Provinsi Aceh diimbau untuk segera mempercepat masa tanam pada musim gadu (musim tanam kedua) tahun ini. Langkah ini menjadi krusial guna menghindari dampak buruk fenomena alam El Nino yang puncaknya diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026.
Di Kabupaten Pidie, tantangan ini menjadi perhatian serius mengingat luas lahan sawah yang mencapai 24.787 hektare (ha) yang tersebar di 22 kecamatan. Sekitar dua per tiga dari total luas lahan tersebut diproyeksikan akan ditanami pada musim gadu kali ini. Petani diharapkan dapat disiplin mengikuti pola tanam yang sesuai dengan ilmu pertanian tanaman pangan agar hasil panen tetap optimal di tengah ancaman kekeringan.
Target Tuntas Tanam Akhir Mei
Penyuluh Pertanian Kabupaten Pidie, Yusri, mengajak para petani untuk memanfaatkan ketersediaan air yang saat ini masih memadai. Menurutnya, debit air sungai dan irigasi yang masih melimpah harus dimanfaatkan secepat mungkin sebelum memasuki fase kemarau ekstrem.
“Harapannya, paling lambat pada akhir bulan Mei, semua lahan harapan musim gadu sudah tuntas penanaman. Jangan sampai berlarut-larut sehingga banyak kendala menantinya,” ujar Yusri. Ia menambahkan bahwa antusiasme petani pada musim gadu kali ini cukup tinggi. Sebagai contoh, di Kecamatan Indrajaya yang memiliki luas lahan sawah 1.599,9 ha, hampir seluruh lahan tersebut direncanakan akan ditanami padi.
Strategi Menghadapi El Nino
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Profesor Sugianto, memberikan sejumlah tips strategis bagi petani dalam menghadapi ancaman El Nino. Menurutnya, ada tiga hal utama yang harus diperhatikan: percepatan tanam, pengaturan air yang efisien, dan kewaspadaan terhadap hama penyakit.
Profesor Sugianto menjelaskan bahwa jika penanaman tuntas pada akhir Mei, maka saat puncak El Nino terjadi di bulan Agustus 2026, tanaman padi sudah melewati fase kritis. “Pada puncak El Nino nanti, fase berbunga dan pengisian isi gabah diharapkan sudah penuh. Petani tinggal menunggu masa panen dengan harapan hasil yang tetap melimpah meskipun cuaca tidak bersahabat,” pungkasnya.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pangan di wilayah Aceh dan melindungi kesejahteraan petani dari risiko gagal panen akibat perubahan iklim ekstrem.
