BONTANG – Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bontang mencatat lonjakan signifikan kasus suspek campak, mencapai 169 orang. Mayoritas penderita merupakan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, memicu kekhawatiran serius terhadap penyebaran penyakit menular di wilayah tersebut.

Data Diskes Bontang per 30 April 2026 menunjukkan, sekitar 88,17% dari total kasus suspek campak terjadi pada anak-anak yang belum memperoleh vaksinasi sesuai jadwal. Kondisi ini dinilai membuka celah besar bagi penularan penyakit di tengah masyarakat.

Rendahnya Cakupan Imunisasi Jadi Pemicu Utama

Kepala Diskes Bontang, Bachtiar Mabe, menegaskan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor utama di balik peningkatan kasus ini. “Rata-rata yang terpapar campak adalah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Ini yang menjadi perhatian utama kami,” ujarnya.

Mabe menjelaskan, imunisasi memiliki peran krusial tidak hanya untuk melindungi individu, tetapi juga untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Ketika cakupan imunisasi rendah, risiko penularan akan meningkat drastis dan sulit dikendalikan.

“Kalau anak tidak diimunisasi, bukan hanya dirinya yang berisiko, tetapi juga orang-orang di sekitarnya,” tegas Mabe, menekankan pentingnya vaksinasi untuk kesehatan komunitas.

Upaya Penanganan dan Tantangan di Lapangan

Sebagai respons, Diskes Bontang telah menggencarkan program imunisasi massal yang berlangsung sejak April hingga Mei 2026. Program ini bertujuan untuk mengejar ketertinggalan cakupan vaksinasi pada anak-anak di seluruh kota.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya berjalan mulus di lapangan. Mabe mengakui masih terdapat sebagian masyarakat yang menolak atau menunda imunisasi. Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang manfaat vaksin.

“Sebagian masih ragu atau belum memahami pentingnya imunisasi. Karena itu kami terus melakukan edukasi secara masif,” kata Mabe.

Dalam penanganan kasus, Diskes Bontang menerapkan pendekatan kuratif sesuai tingkat gejala. Pasien dengan kondisi ringan ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, sementara kasus dengan komplikasi dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Peran Bersama Diperlukan

Mabe menambahkan, fenomena serupa tidak hanya terjadi di Bontang, tetapi juga di sejumlah daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak untuk meningkatkan cakupan imunisasi.

“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Perlu peran bersama agar anak-anak terlindungi dan penyebaran penyakit bisa ditekan,” tutupnya, menyerukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya.