Uung Victoria Finky, sosok di balik jenama pendukung ibu menyusui Mom Uung, menempuh perjalanan laut selama 14 jam menuju Pulau Kangean, wilayah paling timur Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Perjalanan panjang ini bukan sekadar agenda bisnis, melainkan sebuah misi sosial besar untuk membedah problem nutrisi anak di daerah yang puluhan tahun terkendala akses informasi kesehatan.

Sebagai seorang ibu dengan tiga anak, Uung memahami betul betapa rapuhnya mental seorang ibu saat menghadapi fase menyusui sendirian tanpa dukungan sistem yang memadai. Pengalaman personal ini menjadi pendorong utama perjalanannya ke pelosok negeri.

Misi Edukasi dan Temuan Lapangan

Pada akhir April 2026, Uung memulai agenda edukasi di Kangean. Ia mengungkapkan, “Menyusui sering kali terasa sunyi. Ada rasa lelah dan cemas yang sulit diceritakan. Ibu-ibu di pelosok butuh lebih dari sekadar teori; mereka perlu dirangkul dan didengar.” Pernyataan ini menjadi landasan bagi pendekatan yang ia dan timnya lakukan.

Bersama tim medis dari CHeNECE Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Founder Mom Uung ini menyisir pemukiman warga melalui metode kunjungan rumah (home visit). Di lapangan, kenyataan pahit terungkap. dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A., mencatat bahwa grafik tumbuh kembang anak di wilayah kepulauan tersebut masih didominasi kasus gizi kurang atau stunting.

Penyebab utama masalah ini bukan semata-mata kemiskinan, melainkan pola asuh yang keliru. dr. Ikhsanuddin Qoth’i menemukan praktik pemberian air tajin sebagai pengganti air susu ibu (ASI) masih lumrah di kalangan warga lokal. Mitos bahwa ASI tidak lancar menjadi alasan utama para ibu menyerah pada nutrisi alami.

Pendampingan Laktasi dan Harapan Baru

Menanggapi temuan tersebut, dr. Ikhsanuddin Qoth’i memberikan bimbingan teknik laktasi kepada warga. Ia menjelaskan, “Masalahnya bukan soal kuantitas susu, tapi keyakinan hati. Ketenangan ibu menentukan kelancaran ASI. Jika mereka didampingi dan merasa aman, proses nutrisi alami tersebut pasti berjalan.”

Selama di Kangean, tim konselor laktasi melakukan praktik langsung. Mereka mengajarkan teknik perlekatan yang benar hingga manajemen Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia anak. Antusiasme terlihat jelas saat puluhan ibu berkumpul, menyimak setiap instruksi medis dengan saksama.

Uung memandang fenomena tersebut sebagai bukti nyata bahwa semangat para ibu di pelosok sangat tinggi, hanya saja sarana informasinya yang tersumbat. Baginya, turun langsung ke lapangan merupakan satu-satunya cara memastikan kampanye kesehatan tidak berhenti menjadi slogan di media sosial, namun menjadi solusi konkret di dapur-dapur rumah warga.

Edukasi mendalam dan pendampingan laktasi ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi masyarakat Kangean agar anak-anak mereka tumbuh sehat tanpa bayang-bayang stunting. Misi di ujung timur Madura tersebut barulah permulaan dari peta panjang gerakan sosial yang ingin menyasar lebih banyak wilayah terisolasi di Indonesia.