Di tengah hiruk pikuk Kota Makassar yang kian sesak oleh kendaraan pribadi dan layanan transportasi daring, denyut angkutan kota yang akrab disapa pete-pete masih terdengar, meski pelan dan terseok. Angkutan umum legendaris ini, yang pernah menjadi raja jalanan, kini berjuang mempertahankan eksistensinya. Namun, di balik perjuangan itu, tersimpan kisah adaptasi tak terduga: penggunaan tabung gas elpiji 3 kilogram sebagai sumber energi, sebuah langkah yang ironisnya bersinggungan dengan gagasan besar energi hijau.

Pada era 1980-an hingga akhir 2000-an, pete-pete adalah bagian tak terpisahkan dari panorama sosial Makassar. Suara mesinnya yang khas, teriakan kernet yang memanggil penumpang, hingga persaingan antar-angkot menjadi denyut nadi kota. Namun, waktu tak pernah berhenti. Kehadiran ojek daring, kemudahan memiliki kendaraan pribadi, serta pola mobilitas digital perlahan menggerus peran vital pete-pete, membuatnya kehilangan panggung utama.

Di kawasan Sudiang, tak jauh dari Asrama Haji, jejak kejayaan itu kini terasa samar. Beberapa pete-pete berwarna biru terparkir di bawah rindangnya pohon, menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Yunus, salah satu sopir pete-pete, hampir setiap hari menghabiskan waktu di sana. Dalam satu jam, kadang hanya satu atau dua orang yang naik, lebih sering ia hanya menunggu.

Namun, pete-pete milik Yunus menyimpan perbedaan kecil yang mencolok. Di dekat kakinya, terpasang sebuah tabung elpiji 3 kilogram atau “gas melon” yang lazim ditemukan di dapur rumah tangga. Tabung itu kini menjadi sumber tenaga kendaraannya, menggantikan bahan bakar minyak.

Keputusan Yunus bukan lahir dari eksperimen teknologi atau dorongan idealisme lingkungan, melainkan murni dari tekanan biaya. Jika menggunakan bensin, ia bisa menghabiskan hingga Rp200 ribu per hari. Dengan gas elpiji, pengeluarannya turun drastis menjadi sekitar Rp80 ribu. Selisih Rp120 ribu itu bukan sekadar angka, melainkan ruang bernapas bagi ekonomi keluarganya.

Yunus belajar sendiri. Ia menonton video di YouTube, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Sudah dua tahun ia menjalankan kendaraannya dengan sistem itu, tanpa pelatihan, tanpa sertifikasi, dan tanpa pengawasan. Ironisnya, dari keterbatasan itu, ia justru menjadi rujukan. Sopir lain mulai datang, bertanya, dan belajar. Yunus pun perlahan menjadi “ahli” bagi komunitas kecilnya, sebuah peran yang tak pernah ia rencanakan.

Risiko Tersembunyi di Balik Efisiensi

Di satu sisi, apa yang dilakukan Yunus tampak seperti langkah kecil menuju energi yang lebih bersih, mengingat penggunaan gas memang diketahui dapat menurunkan emisi. Namun di sisi lain, risiko besar mengintai. Tabung elpiji 3 kilogram tidak pernah dirancang untuk kendaraan. Tidak ada standar keselamatan yang memastikan instalasinya aman, pun tidak ada uji kelayakan. Semua bergantung pada improvisasi.

Muhammad Farid, seorang dosen teknik mesin dari Universitas Negeri Makassar, mengingatkan bahwa sistem bahan bakar gas memiliki standar keselamatan yang ketat. Menurutnya, kesalahan kecil bisa memicu kebocoran, dan kebocoran bisa berujung pada percikan yang, dalam kondisi tertentu, dapat berarti ledakan.

Peringatan serupa datang dari Pertamina. Elpiji 3 kilogram adalah gas subsidi yang diperuntukkan bagi rumah tangga, bukan kendaraan. Secara lingkungan, memang ada potensi pengurangan emisi sekitar 21 persen, menurut pengamat. Namun secara hukum, praktik ini berada di wilayah abu-abu, bahkan cenderung melanggar aturan.

Bagi sebagian penumpang, seperti Yusrianti, rasa khawatir sempat muncul. Namun, penjelasan dari sopir sering kali cukup untuk menenangkan. Selama ini, memang belum ada insiden besar. Mesin tetap berjalan, perjalanan terasa biasa. Namun, ketenangan itu bisa jadi rapuh, berdiri di atas ketidakpastian.

Fenomena pete-pete berbahan bakar gas ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan. Di tingkat pusat, komitmen menuju energi bersih terus digaungkan. Namun di tingkat akar rumput, transisi itu berlangsung tanpa arah yang jelas, tanpa panduan, tanpa perlindungan, dan tanpa kehadiran negara yang nyata. Yunus dan rekan-rekannya tidak sedang berbicara tentang emisi karbon atau target dekarbonisasi. Mereka hanya ingin bertahan hidup, memilih gas bukan karena ingin menyelamatkan bumi, tetapi karena ingin menyambung hidup.

Ir Lambang Basri, ST, MT, PhD, seorang pengamat transportasi dari Universitas Hasanuddin, menilai kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, sopir angkot membutuhkan solusi yang tidak hanya murah, tetapi juga aman. Sementara itu, para pengamat kebijakan publik mengingatkan pentingnya keadilan energi, bahwa akses terhadap energi bersih tidak boleh menjadi privilese segelintir pihak.

Ironisnya, praktik ini bahkan belum sepenuhnya terdeteksi oleh otoritas setempat hingga temuan lapangan mulai mencuat. Janji untuk menindaklanjuti kini mulai terdengar. Namun, seperti banyak hal lain di negeri ini, waktu berjalan lebih cepat dari respons.

Di bawah rindangnya pohon di Sudiang, Yunus masih menunggu. Di samping kakinya, tabung gas kecil itu tetap setia menemani, sekaligus menjadi simbol harapan dan risiko secara bersamaan. Energi hijau bukan hanya soal menurunkan emisi, tetapi tentang menghadirkan solusi yang aman, terjangkau, dan adil.

Di udara Makassar yang hangat, sebuah pertanyaan masih menggantung, “Akankah negara datang tepat waktu, sebelum upaya bertahan hidup ini berubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa diperbaiki?”