Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa penghentian serangan Israel terhadap Lebanon menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Teheran dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah laporan serangan udara masif Israel di Lebanon, sehari setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata.

Menurut laporan media Iran, Presiden Pezeshkian menyampaikan hal tersebut kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui sambungan telepon pada Rabu (8/4/2026). Ia menjelaskan bahwa penghentian agresi Israel di Lebanon termasuk dalam 10 syarat yang dilampirkan pada perjanjian dengan Washington.

Pezeshkian juga menekankan peran penting Prancis sebagai salah satu penjamin gencatan senjata sebelumnya di Lebanon. Presiden Iran menyatakan bahwa Teheran telah bertindak secara bertanggung jawab dengan menerima usulan gencatan senjata, menunjukkan kesediaannya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.

Pembicaraan antara kedua pemimpin ini terjadi sehari setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata yang bertujuan membuka jalan bagi kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang. Perang tersebut dilancarkan oleh Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran sejak 28 Februari.

Namun, meskipun ada perjanjian gencatan senjata selama dua minggu, tentara Israel dilaporkan tetap melancarkan gelombang serangan udara yang luas di seluruh Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Serangan ini menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya, menurut data Pertahanan Sipil Lebanon.

Sementara pejabat Iran dan Pakistan mengklaim bahwa perjanjian gencatan senjata tersebut juga mencakup Lebanon, Israel bersikeras bahwa Lebanon bukan bagian dari kesepakatan tersebut, menciptakan ketidakpastian dan ketegangan di lapangan.