GRESIK, 8 April 2026 – Penelitian kolaboratif di Gili Noko, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, berhasil mengungkap dua kondisi penting sekaligus: kualitas perairan laut yang masih sangat baik dan ancaman serius mikroplastik yang mulai mengintai ekosistem laut.
Riset ini merupakan hasil kerja sama antara SDIT Al Huda Bawean dan mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga melibatkan siswa sekolah dasar secara langsung untuk memahami ekosistem laut di sekitar mereka.
Kualitas Air Terjaga dan Fondasi Rantai Makanan
Selama dua hari, pada 5–6 April 2026, tim gabungan melakukan pengamatan terhadap plankton dan makroalga, serta mengukur kualitas air di Gili Noko. Hasil pengukuran menunjukkan kadar oksigen terlarut mencapai 8,76 mg/L, pH 9, dan suhu 31 derajat Celsius.
Angka-angka ini mengindikasikan bahwa perairan di Gili Noko masih dalam kondisi prima untuk mendukung kehidupan beragam biota laut. Davin Jauhar Bernarddien, salah satu mahasiswa Ilmu Kelautan UINSA yang terlibat, menjelaskan pentingnya plankton sebagai fondasi utama rantai makanan laut.
“Fitoplankton menghasilkan oksigen, sedangkan zooplankton menjadi penghubung bagi organisme yang lebih besar. Keduanya menentukan keseimbangan ekosistem laut,” ujar Davin. Ia juga membandingkan kondisi ini dengan wilayah pesisir perkotaan seperti Surabaya, di mana tekanan aktivitas manusia sering kali membuat kualitas air lebih rentan.
Di Gili Noko, kejernihan air masih memungkinkan pandangan hingga dasar laut, sebuah indikator kesehatan ekosistem yang jarang ditemukan di area padat penduduk.
Terumbu Karang Sehat, Mikroplastik Mengintai
Penelitian juga berlanjut pada identifikasi makroalga, khususnya anggur laut (Caulerpa sp.) yang tumbuh subur di sekitar terumbu karang. Dewi Fitriana, mahasiswa yang memimpin pengamatan ini, menegaskan kondisi habitat di Gili Noko masih sangat sehat.
“Terumbu karang berwarna, tidak ada tanda pemutihan, dan ikan kecil masih mudah dijumpai,” kata Dewi. Namun, ia juga mengingatkan tentang ancaman yang tak kasatmata dan berpotensi merusak keindahan serta kesehatan laut Bawean.
“Mikroplastik dari sampah laut berisiko merusak keanekaragaman plankton. Padahal plankton adalah produsen oksigen sekaligus sumber energi utama di laut,” tegas Dewi, menyoroti bahaya laten yang dibawa oleh polusi plastik.
Siswa SD Terlibat Langsung dalam Pembelajaran Sains
Keterlibatan siswa menjadi salah satu aspek penting dari kegiatan riset ini. Empat siswa kelas 5 SDIT Al Huda Bawean ikut turun langsung dalam pengamatan, mengubah laut dari sekadar pemandangan menjadi ruang belajar yang interaktif.
Syarif Hidayatulloh, salah satu peserta didik, mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang ekosistem laut. “Saya baru tahu ada fitoplankton dan zooplankton. Seru karena bisa belajar langsung sambil melihat ikan dan tumbuhan laut,” ungkap Syarif dengan antusias.
Inayatul Fitriah, guru pendamping dari SDIT Al Huda Bawean, menambahkan bahwa pendekatan lapangan membuat sains terasa lebih dekat dan mudah dipahami oleh siswa. “Anak-anak belajar dari lingkungan yang mereka temui setiap hari, jadi lebih mudah dipahami,” jelasnya.
Rifky Ananda Rahman, mahasiswa UINSA, juga mengamini bahwa metode riset lapangan memberikan pengalaman yang tak tergantikan oleh pembelajaran di kelas. “Kami mendapat cara baru dalam pembelajaran. Siswa juga lebih antusias karena terlibat langsung,” tuturnya.
Pesan Penting untuk Masa Depan Bawean
Di luar hasil ilmiah, riset ini membawa pesan yang lebih luas: pentingnya menjaga laut tidak bisa ditunda. Sampah plastik yang belum tertangani berpotensi menjadi sumber krisis lingkungan serius di Bawean.
Para mahasiswa UINSA berharap generasi muda Pulau Bawean dapat mulai dari mengenali ekosistemnya sendiri sebelum bergerak lebih jauh dalam upaya konservasi. Kesadaran ini menjadi kunci untuk menjaga laut tetap sehat dan melindungi sumber kehidupan masyarakat pesisir.
Kolaborasi antara akademisi dan sekolah dasar ini menjadi langkah awal yang signifikan untuk memperkuat pendidikan berbasis riset di wilayah kepulauan. Dari Gili Noko, siswa Bawean belajar bahwa sains bukanlah sesuatu yang jauh, melainkan ada di laut yang mereka pijak setiap hari.
