Nama Aldi Taher kembali menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial. Bukan karena karya musik atau aktingnya, melainkan strategi pemasaran nyeleneh yang ia terapkan untuk mempromosikan produk burgernya, Aldis Burger. Fenomena ini menarik perhatian Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya, yang menganalisis kekuatan di balik gaya ‘berani malu yang penting laku’ ala Aldi Taher.

Ini bukan kali pertama Aldi Taher menciptakan sensasi dengan cara yang tidak biasa. Sebelumnya, ia pernah menjadi sorotan karena kerap meninggalkan komentar bernuansa agama di setiap unggahan teman-teman artisnya, lengkap dengan tagar yang juga dikirimkan ke mereka. Tindakan yang kala itu dianggap “nyebelin” oleh banyak rekan artisnya, justru berhasil mengangkat kembali namanya yang sempat meredup.

Strategi ‘Senggol’ Artis untuk Aldis Burger

Kini, pola serupa diulanginya untuk Aldis Burger. Promosi produknya di platform X dan thread seringkali muncul tiba-tiba sebagai komentar di unggahan orang lain, dengan kalimat khas: “Aldis Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian bisa pesan online”. Dalam satu kalimat, ia menyenggol tiga nama besar di industri hiburan yang memiliki basis penggemar kuat: grup band Juicy Luicy, Mahalini, dan Rizky Febian.

Gaya promosi ini, meski kembali dianggap “nyebelin” oleh sebagian warganet, terbukti ampuh mencuri perhatian. Di era media sosial yang serba cepat, perhatian publik seringkali lebih mudah direbut oleh hal-hal yang unik dan tak terduga, ketimbang sekadar produk terbaik.

Ekonomi Atensi dan Persona Aldi Taher

Menurut Yuli Zulaikha, strategi pemasaran Aldi Taher sangat relevan dalam konteks branding digital saat ini. “Di titik inilah strategi marketing ala Aldi Taher menarik untuk dibahas,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa dalam ekonomi atensi, perhatian adalah gerbang pertama menuju penjualan. Aldi Taher tidak hanya menjual burger, melainkan juga persona dirinya.

Nama, gaya bicara, tingkah laku, hingga aura “tidak jaim” menjadi bagian integral dari paket branding-nya. Audiens media sosial, kata Yuli, tidak selalu mencari komunikasi yang rapi dan elegan. Mereka justru tertarik pada sesuatu yang terasa absurd, spontan, lucu, dan mudah dibagikan ulang. Konten yang memicu respons seperti, “Ini apaan sih?” seringkali memiliki potensi viral yang lebih besar dibandingkan promosi yang terlalu formal.

Tiga Kekuatan Pemasaran Digital ala Aldi Taher

Dari perspektif pemasaran digital, Yuli Zulaikha mengidentifikasi setidaknya tiga kekuatan utama dalam gaya marketing Aldi Taher:

  1. Personal Branding yang Kuat. Banyak merek kecil kesulitan dikenal karena tidak memiliki “wajah” yang menonjol. Aldi Taher justru memanfaatkan betul namanya yang sudah dikenal publik sebagai mesin promosi utama. Ia tidak membangun jarak antara pemilik usaha dan konsumen, melainkan hadir langsung sebagai konten, narasi, dan hiburan. Hal ini membuat merek terasa hidup, bukan sekadar logo atau nama toko.
  2. Memahami Logika Viralitas. Konten yang mudah diingat di media sosial biasanya memadukan elemen kejutan, repetisi, dan emosi. Gaya promosi Aldi Taher berhasil memadukan ketiganya, membuat orang tertawa, heran, geleng-geleng kepala, bahkan sebel, tetapi tetap menikmatinya. “Dalam bahasa branding, ini penting karena awareness lahir lebih dulu sebelum consideration dan conversion,” jelas Yuli. Rasa penasaran awal inilah yang membuka peluang transaksi.
  3. Mengubah Rasa Malu Menjadi Diferensiasi. Banyak merek takut dianggap norak, terlalu jualan, atau dikomentari negatif. Aldi Taher justru masuk ke ruang itu tanpa beban. Hasilnya, ia memiliki posisi yang unik di tengah lautan promosi kuliner yang seragam. Gaya nyelenehnya justru membuat merek lebih mudah dikenali. Dalam pasar digital yang padat, “berbeda sering kali lebih berharga daripada sempurna,” kata Yuli.

Risiko dan Pelajaran Penting

Meski efektif, strategi yang terlalu bertumpu pada sensasi seperti ini tetap memiliki risiko. Viralitas tidak selalu menjamin reputasi jangka panjang. Sebuah merek yang mengandalkan sensasi bisa cepat naik, tetapi juga cepat meredup jika tidak dibarengi dengan kualitas produk dan pengalaman pelanggan yang baik.

Pelajaran utama dari fenomena Aldi Taher, menurut Yuli Zulaikha, bukanlah sekadar membikin heboh agar laku, melainkan keberanian dalam membaca budaya internet. Netizen menyukai keaslian, hiburan, keanehan, dan karakter yang kuat. Aldi Taher memanfaatkan hal tersebut dengan sangat sadar. Ia menunjukkan bahwa dalam lanskap digital, yang terlalu rapi kadang justru tenggelam, sementara yang cukup berani tampil apa adanya bisa mencuri panggung.

Pada akhirnya, gaya ‘berani malu yang penting laku’ ala Aldi Taher memperkuat pandangan bahwa konsumen modern tidak hanya membeli barang, tetapi juga cerita, karakter, dan pengalaman sosial yang bisa mereka bicarakan. Dalam dunia branding digital, yang paling diingat memang bukan yang paling sopan, melainkan yang paling sulit diabaikan.