BANDUNG – Ribuan warga memadati Plaza Balai Kota Bandung pada Sabtu (21/3) untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga momen silaturahmi bagi masyarakat, termasuk perantau yang kembali ke Kota Bandung untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Jajaran Pemerintah Kota Bandung, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta tokoh masyarakat turut hadir dalam pelaksanaan salat Id yang dipimpin oleh khatib Ahmad Farizi tersebut.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan. Ia menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar kemenangan spiritual, melainkan juga momen penting untuk mempererat hubungan antarwarga.
“Saya juga mengajak masyarakat untuk saling memaafkan dan menjaga hati dari hal-hal negatif. Idulfitri adalah momen untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan memperkuat persaudaraan,” tutur Farhan.
Lebih lanjut, Farhan mengingatkan pentingnya kepedulian sosial, terutama di tengah masih adanya ketimpangan ekonomi di Kota Bandung. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya merayakan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga merefleksikan kondisi sosial di sekitar mereka.
“Hingga saat ini masih terdapat sekitar 100 ribu warga Kota Bandung yang hidup dalam kondisi miskin dan miskin ekstrem. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Saya melihat langsung kondisi warga yang sangat memprihatinkan. Tidak cukup hanya dengan bantuan, tetapi mereka membutuhkan kesempatan untuk hidup lebih baik,” ungkapnya.
Farhan juga memaparkan data bahwa sekitar 7,4 persen angkatan kerja produktif di Kota Bandung masih belum mendapatkan pekerjaan. Tingkat ketimpangan ekonomi, yang tercermin dari gini rasio, mencapai angka 0,42, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Persoalan kompleks ini, menurut Farhan, tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk masyarakat.
“Dalam konteks ini saya menekankan pentingnya peran zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen pemerataan ekonomi. Zakat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga solusi sosial agar kekayaan tidak hanya berputar di kelompok tertentu,” tandasnya.
Mengakhiri sambutannya, Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai titik awal untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial. Harapannya, kesejahteraan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh warga Kota Bandung.
