PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menegaskan komitmennya dalam upaya pengurangan emisi karbon dan perlindungan ekosistem. Perusahaan menargetkan penanaman hingga 150.000 bibit mangrove pada tahun 2026 sebagai bagian dari berbagai program lingkungan yang komprehensif, termasuk pengembangan energi bersih.
Langkah ini merupakan bentuk dukungan terhadap agenda perubahan iklim global serta implementasi kebijakan kawasan industri rendah emisi, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021.
Target Ambisius Penanaman Mangrove
Sejak tahun 2018 hingga 2025, IMIP telah berhasil menanam 70.188 bibit mangrove di sejumlah desa sekitar kawasan industri, mencakup area seluas 5,62 hektare. Program serupa juga meluas ke Palu, Sulawesi Tengah, dengan penanaman 10.000 bibit, serta di Brebes, Jawa Tengah, dengan 30.000 bibit.
Dari total penanaman tersebut, potensi penyerapan karbon diproyeksikan mencapai 21.483,2 ton CO2e. Pada tahun 2026, IMIP menetapkan target ambisius untuk mencapai total penanaman 150.000 bibit mangrove.
Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati dan Konservasi
Selain rehabilitasi pesisir, IMIP juga menjalankan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plan) untuk melindungi habitat penting dan memulihkan ekosistem. Direktur Lingkungan PT IMIP, Dermawati S., menjelaskan bahwa program ini melibatkan berbagai pihak.
“Program ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan masyarakat setempat, akademisi, dan pemerintah, serta mengacu pada Praktik Industri Internasional yang Baik (GIIP), termasuk pedoman Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial dari International Finance Corporation (IFC),” jelas Dermawati pada Sabtu (07/03/2026).
IMIP juga mengembangkan kawasan konservasi IMIP EduPark seluas 23 hektare. Kawasan ini berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian satwa endemik Sulawesi. Pada tahun 2024, perusahaan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk memindahkan 20 ekor Macaca Ochreata ke habitat baru di Taman Wisata Alam Tokobae.
Transisi Energi dan Inovasi Industri
Upaya pengurangan emisi juga terwujud melalui transisi energi di kawasan industri IMIP. Sebanyak 502 unit kendaraan listrik telah digunakan oleh para penyewa untuk operasional mereka.
Inovasi energi bersih juga dilakukan oleh beberapa perusahaan di kawasan tersebut. PT Huayue Nickel Cobalt memanfaatkan energi panas dari proses industri untuk pembangkit listrik mandiri. Sementara itu, PT Dexin Steel Indonesia mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 65,89 MWp dengan 119.800 panel surya, dilengkapi sistem penyimpanan energi 22 MW/22 MWh.
Dukungan Terhadap Agenda Iklim Global
Langkah-langkah ini merupakan bagian integral dari komitmen IMIP untuk menjalankan industri secara bertanggung jawab dan mendukung agenda global penanganan perubahan iklim. IMIP juga turut berpartisipasi dalam Forum COP30 di Brasil pada 10-21 November 2025, yang membahas implementasi Perjanjian Paris, pengurangan emisi global, perlindungan hutan tropis, serta penguatan transisi energi bersih.
“Langkah-langkah ini merupakan bagian dari komitmen IMIP untuk menjalankan industri secara bertanggung jawab sekaligus mendukung agenda pengelolaan perubahan iklim global. COP30 adalah momentum untuk memperkuat tindakan nyata mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim. Kami berupaya memastikan bahwa pertumbuhan industri berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan,” ujar perwakilan IMIP.
