Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Muhammad Yamin, menilai konflik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 berpotensi besar mengganggu industri pariwisata global. Gangguan ini utamanya disebabkan oleh terhambatnya konektivitas penerbangan internasional.

Penutupan Ruang Udara dan Dampak Global

Yamin menjelaskan, penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah telah menciptakan gangguan signifikan pada jaringan penerbangan global. “Kawasan tersebut selama ini menjadi jalur transit utama penerbangan internasional,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (6/3/2026).

Menurut Yamin, Timur Tengah telah berkembang menjadi pusat konektivitas penerbangan dunia selama dua dekade terakhir. Bandara-bandara hub utama seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi menjadi simpul transit bagi puluhan ribu penumpang setiap hari, menghubungkan rute Eropa, Asia, Afrika, hingga Amerika melalui maskapai besar seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways.

Ketika ruang udara di Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Yordania ditutup bersamaan, dampaknya tidak hanya terasa di regional, tetapi juga memengaruhi mobilitas global. “Banyak penerbangan internasional yang dibatalkan atau dialihkan. Ribuan penumpang terlantar di berbagai bandara karena rute transit melalui kawasan Teluk tidak dapat dilanjutkan,” tegas Yamin.

Efek Domino pada Destinasi Wisata, Termasuk Bali

Gangguan ini juga berdampak pada destinasi wisata di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada konektivitas penerbangan internasional melalui hub di Timur Tengah. Yamin mencontohkan pembatalan sejumlah penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, akibat terganggunya rute menuju Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.

Pembatalan tersebut menyebabkan ribuan calon penumpang terdampak, dan sebagian wisatawan asing yang sedang berlibur di Bali harus mencari alternatif penerbangan untuk kembali ke negara asal. “Ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik yang terjadi jauh dari Indonesia tetap dapat memberikan efek domino terhadap sektor pariwisata nasional,” ujarnya.

Kenaikan Harga Minyak dan Minat Wisatawan

Selain gangguan penerbangan, Yamin juga menyoroti potensi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik. Kenaikan ini akan berdampak pada meningkatnya biaya operasional maskapai penerbangan, yang pada akhirnya dapat memicu peningkatan harga tiket pesawat.

“Wisatawan leisure biasanya sangat sensitif terhadap harga. Ketika harga tiket meningkat, mereka cenderung menunda perjalanan atau memilih destinasi yang lebih dekat,” jelasnya. Dampak serupa juga dapat dirasakan pada sektor pariwisata bisnis, seperti kegiatan meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE), yang sangat bergantung pada konektivitas penerbangan internasional.

Memperkuat Ketahanan Sektor Pariwisata Nasional

Yamin menekankan bahwa kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan sektor pariwisata. Caranya adalah melalui diversifikasi rute penerbangan internasional dan perluasan pasar wisatawan.

“Ketergantungan pada rute transit tertentu perlu dikurangi dengan memperkuat konektivitas langsung ke pasar utama serta memperluas pasar wisatawan dari kawasan Asia dan Asia Tenggara,” sarannya.

Meskipun industri pariwisata global memiliki daya lenting yang kuat dan telah melewati berbagai krisis seperti serangan 11 September 2001 hingga pandemi COVID-19, Yamin mengingatkan pentingnya stabilitas geopolitik. “Industri pariwisata sangat bergantung pada stabilitas dan konektivitas global. Ketika konflik menutup jalur penerbangan internasional, dampaknya langsung dirasakan oleh ekosistem pariwisata di berbagai negara,” pungkasnya.

Sumber Gambar: https://kilatnews.co/akademisi-unsoed-konflik-timur-tengah-ganggu-pariwisata-global/