Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), memastikan pembangunan Sekolah Rakyat akan terealisasi pada tahun 2026. Kepastian ini menyusul rampungnya persiapan lahan pengganti untuk area yang sebelumnya merupakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, menjelaskan bahwa lahan pembangunan Sekolah Rakyat tersebut memang masuk kategori LP2B. “Lahan pembangunan Sekolah Rakyat itu masuk LP2B, sehingga menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk menggantikan fungsi lahan yang digunakan tersebut,” kata Lalu Pathul Bahri di Lombok Tengah, Senin (24/2/2026).

Ia menambahkan, lahan pengganti telah disiapkan, yaitu area bekas galian C yang kini dialihfungsikan menjadi LP2B. Hal ini telah dikomunikasikan dan disetujui oleh Kementerian Pertanian (Kementan) RI. “Lahan pengganti tidak ada masalah,” tegasnya.

Menurut Bupati, saat ini dokumen pengajuan pembangunan Sekolah Rakyat tersebut telah berada di Kementerian Sosial (Kemensos) untuk proses lebih lanjut. Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap sawah untuk menjaga ketahanan pangan. “Sawah ini harus dilindungi untuk menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemkab Lombok Tengah telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare di Kecamatan Pringgarata untuk proyek Sekolah Rakyat yang merupakan inisiatif pemerintah pusat. Pendanaan pembangunan fasilitas dan pemenuhan tenaga pendidik akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Pemerintah daerah hanya menyiapkan lahan dan murid,” jelas Bupati Pathul Bahri. Sekolah Rakyat ini akan menargetkan anak-anak dari keluarga kurang mampu atau yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Murid Sekolah Rakyat itu dari warga kurang mampu atau yang masuk Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN),” imbuhnya. Jenjang pendidikan yang akan dibangun dapat mencakup SD, SMP, dan SMA, disesuaikan dengan data jumlah warga kurang mampu di Lombok Tengah.

Tujuan utama pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah untuk menyediakan pendidikan berkualitas dan gratis, dengan harapan dapat memutus rantai kemiskinan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Tujuan juga untuk menciptakan generasi yang lebih baik dan berdaya saing dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Sekolah ini dirancang menyerupai sekolah asrama, di mana peserta didik dan tenaga pendidik akan tinggal di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, fasilitas yang akan dibangun akan sangat lengkap, meliputi gedung sekolah, asrama, dan fasilitas pendukung lainnya. “Kami mohon doa dan dukungan dari masyarakat Lombok Tengah, agar Sekolah Rakyat ini bisa terwujud,” tutup Lalu Pathul Bahri.