Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) secara resmi memperluas kontribusinya di sektor kesehatan nasional. Langkah ini ditandai dengan peresmian dua Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru, yaitu Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Pembukaan program ini menjadi respons konkret terhadap tingginya beban kasus tuberkulosis (TBC) di Jawa Timur serta upaya sistematis memutus rantai stunting sejak dalam kandungan.
Unusa Resmikan Dua PPDS Baru dengan Misi Spesifik
Peluncuran dua program spesialis di bawah naungan Fakultas Kedokteran (FK) Unusa ini dilaksanakan berbarengan dengan pembukaan program serupa di Universitas Ciputra dan Universitas Hang Tuah pada Sabtu, 21 Februari 2026. Unusa mengusung misi spesifik dalam kurikulumnya, yakni memadukan sains medis modern dengan nilai-nilai humanistik Ibnu Sina.
Pada spesialis Obgyn, Unusa mengambil ceruk yang jarang tersentuh, yaitu tata kelola antenatal berbasis nutrisi janin. Pendekatan ini memandang kesehatan bayi tidak dimulai saat lahir, melainkan sejak masa konsepsi. Dengan memperbaiki gizi janin secara presisi, dokter spesialis lulusan Unusa diproyeksikan menjadi garda terdepan dalam meningkatkan kualitas generasi masa depan Indonesia.
Fokus pada Nutrisi Janin dan Penanganan TBC
Sementara itu, PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi hadir di tengah situasi darurat pernapasan. Data menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk kasus TBC setelah India. Di level nasional, Jawa Timur membayangi Jawa Barat di posisi kedua sebagai penyumbang kasus TBC terbanyak.
Rektor Unusa, Prof. Triyogi Yuwono, menjelaskan bahwa kehadiran dua program studi ini merupakan strategi hulu ke hilir. Menurutnya, kesehatan bangsa harus dijaga ketat sejak dalam rahim hingga perlindungan terhadap penyakit menular yang masih menghantui masyarakat. “Kesehatan generasi kita bermula dari kandungan. Melalui penguatan pendidikan spesialis di bidang ibu-anak dan respirasi, kami ingin memberi dampak nyata bagi publik,” ujar Prof. Triyogi.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FK Unusa Dr. dr. Handayani memastikan kurikulum yang disusun tidak hanya mengejar kemahiran klinis. Ia menegaskan pentingnya integritas moral dan kepekaan sosial bagi para calon dokter spesialis. “Kami meramu keunggulan sains, sisi kemanusiaan, dan nilai keislaman. Lulusan nanti wajib profesional, beretika, serta cekatan menjawab tantangan kesehatan di komunitas, terutama soal TBC dan kesehatan ibu,” tegas dr. Handayani.
Targetnya, pada tahun 2035 mendatang, FK Unusa mampu melahirkan jajaran spesialis yang kompetitif secara global namun tetap membumi dalam pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.
