Sebanyak 50 biksu Thudong melintasi kawasan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, pada Kamis, 14 Mei 2026. Perjalanan spiritual ini merupakan bagian dari rangkaian ritual berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur, Jawa Tengah, dengan misi utama menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi antarumat beragama.

Ritual Thudong ini diikuti oleh biksu asal Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Laos. Mereka menempuh perjalanan panjang lintas negara dengan membawa pesan perdamaian dan persaudaraan. Rombongan biksu memulai perjalanan hari ini dari Kelenteng di pusat Kota Sidoarjo.

Sepanjang rute melewati Jalan Raya Buduran hingga Gedangan, para biksu mendapatkan pengawalan ketat dari aparat keamanan TNI-Polri serta didampingi tim medis. Ratusan warga Sidoarjo dari berbagai kalangan turut menyambut rombongan biksu Thudong. Banyak warga secara sukarela membagikan makanan, buah-buahan, hingga minuman sebagai bentuk penghormatan dan dukungan moral.

Hamzah, salah satu warga yang ikut menyaksikan, mengungkapkan rasa senangnya. “Senang ikut menyaksikan rombongan biksu berjalan kaki ribuan kilometer, apalagi ini untuk misi perdamaian,” katanya.

Salah satu momen menarik selama perjalanan di Sidoarjo ialah saat rombongan biksu singgah di Masjid Al-Hidayah, Gedangan. Di sana, para biksu Thudong beristirahat sejenak dan disambut hangat oleh pengurus masjid serta tokoh agama setempat.

Persinggahan ini menjadi simbol kuat toleransi beragama di Indonesia. “Di mana rumah ibadah umat Islam menjadi tempat bernaung sementara bagi para pendeta Buddha yang sedang menjalankan ibadah fisik tersebut,” demikian dijelaskan. Ritual jalan kaki sejauh 666 km ini juga bertujuan syiar perdamaian dan persiapan menyambut Hari Raya Waisak.

Setelah dari Sidoarjo, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju arah barat melintasi wilayah Mojokerto sebelum akhirnya mencapai target di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.