Kota Kediri merayakan hari jadi ke-157 Jembatan Lama Kediri dengan khidmat dan penuh makna pada Sabtu (14/3/2026) malam. Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, hadir dalam peringatan tersebut bersama jajaran pemerintah daerah dan para pegiat budaya, menyerukan pentingnya merawat warisan sejarah yang telah menjadi identitas kota.
Jembatan Lama: Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kediri
Dalam sambutannya, Vinanda Prameswati menegaskan bahwa Jembatan Lama memiliki peran lebih dari sekadar penghubung dua wilayah. “Jembatan Lama ini bukan hanya sekadar penghubung dua wilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah, kehidupan masyarakat, serta perkembangan budaya di Kota Kediri. Momentum ini hendaknya tidak hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk merawat dan menjaga warisan yang telah menjadi identitas kita,” ujarnya.
Mbak Vinanda, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa Jembatan Lama Kediri kini telah memiliki hak kekayaan intelektual dan ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional. Oleh karena itu, keberadaannya harus terus dijaga dan dilestarikan bersama oleh seluruh masyarakat.
Diinisiasi Pegiat Budaya, Maju dari Tanggal Asli
Peringatan hari jadi jembatan bersejarah ini diinisiasi oleh sejumlah pemerhati budaya dan sejarah yang tergabung dalam komunitas Juru Wotan. Kegiatan tersebut digagas oleh peneliti sejarah Jembatan Lama Kediri sekaligus pemerhati cagar budaya, Imam Mubarok, yang akrab disapa Gus Barok.
Gus Barok menjelaskan bahwa Jembatan Lama Kediri, yang dahulu dikenal sebagai Brug Over den Brantas te Kediri, genap berusia 157 tahun pada 18 Maret 2026. Jembatan ini pertama kali dioperasikan pada 18 Maret 1869 sebagai bagian dari jalur Groote Postweg pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Namun, peringatan tahun ini dimajukan menjadi 14 Maret.
“Karena tanggal 18 Maret tahun ini berdekatan dengan Idul Fitri, maka peringatan ulang tahun jembatan dimajukan agar masyarakat tetap dapat mengikuti kegiatan dengan baik,” jelas Gus Barok.
Adikarya Teknik Abad ke-19, Lebih Tua dari Jembatan Brooklyn
Secara historis, Jembatan Lama Kediri dikenal sebagai salah satu karya teknik penting pada abad ke-19. Struktur jembatan menggunakan konstruksi besi yang ditopang oleh tiang sekrup yang ditanam di dasar Sungai Brantas. “Jembatan ini merupakan jembatan besi pertama di Jawa, bahkan pada masa itu dianggap sebagai adikarya teknik oleh insinyurnya,” tambah Gus Barok.
Usia jembatan tersebut bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Brooklyn di New York, Amerika Serikat, yang baru selesai dibangun pada tahun 1883. Jembatan yang berlokasi di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto ini memiliki panjang sekitar 160 meter, lebar 5,8 meter, serta tinggi sekitar 7,5 meter dari permukaan air Sungai Brantas.
Status Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya peringkat nasional ditetapkan pada tahun 2022 melalui keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, bersama 14 objek cagar budaya lainnya di Indonesia. Penetapannya juga didasarkan pada rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019.
Dirangkai Kegiatan Budaya dan Peluncuran Tenun Ikat Motif Jembatan Lama
Selain selamatan ulang tahun ke-157, peringatan ini juga dirangkaikan dengan berbagai kegiatan budaya. Beberapa di antaranya meliputi:
- Penampilan kesenian jaranan.
- Pengajian di Kantor Disbudparpora.
- Peluncuran tenun ikat Bandar bermotif Jembatan Lama.
Motif tenun ikat tersebut merupakan karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada. Motif ini diharapkan menjadi simbol pelestarian warisan sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Kediri melalui karya tenun ikat khas daerah.
