Sejumlah sumber medis pada Ahad (24/5) memperingatkan kondisi genting persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis di Jalur Gaza. Situasi ini memperparah krisis perawatan kesehatan dan mengancam nyawa ribuan pasien di wilayah Palestina tersebut.
Kekurangan pasokan krusial ini menempatkan 250 pasien gagal ginjal pada risiko kehilangan akses dialisis akibat minimnya larutan Bibag. Sementara itu, perawatan untuk delapan anak yang sakit juga kemungkinan terhenti lantaran minimnya filter medis yang diperlukan.
Selain itu, kekosongan suntikan insulin memperburuk kondisi kesehatan sekitar 11.000 pasien diabetes. Sebanyak 110 pasien hemofilia juga menderita parah akibat kurangnya perawatan VACTOR di Jalur Gaza.
WHO Soroti Tragedi Kemanusiaan
Akhir pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menggambarkan hancurnya layanan kesehatan dan kehidupan manusia di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai sebuah tragedi mengerikan. Dalam pernyataan yang dipublikasikan Kamis (21/5), Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur Dr. Hanan Balkhy menyoroti dampak konflik.
“Pada 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru telah dilaporkan,” kata Balkhy. Ia mengungkapkan bahwa sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 orang meninggal dunia dan 182.000 lainnya terluka. Pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut, layanan kesehatan masih terganggu, dan akses kemanusiaan juga masih terbatas, bahkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025.
Saat ini, tidak ada rumah sakit yang berfungsi secara penuh di Gaza dan tidak ada satu pun rumah sakit yang beroperasi di Gaza utara. Lebih dari setengah stok obat-obatan penting habis, sementara ribuan pasien masih memerlukan evakuasi medis mendesak.
- Penyakit menular terus menyebar di tengah kepadatan penduduk dan kondisi kesehatan yang memburuk.
- Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental sangat besar.
- Risiko bagi ibu dan bayi baru lahir meningkat tajam.
Terkait wilayah Tepi Barat, WHO memastikan situasi terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses.
Tantangan Finansial dan Upaya WHO
Krisis finansial yang dihadapi otoritas Palestina juga sangat membatasi layanan kesehatan, di mana rumah sakit umum hanya menyediakan layanan darurat. WHO bersama para mitra terus bekerja dalam kondisi sangat sulit.
WHO telah mengajukan anggaran senilai 648 juta dolar AS (sekitar Rp11,4 triliun) untuk mendanai kesehatan di 2025, tetapi sejauh ini baru menerima 75 persen dari jumlah tersebut. Terlepas dari tantangan yang dihadapi, WHO telah memberikan dukungan dengan mengirimkan lebih dari 4.000 metrik ton pasokan medis darurat ke Gaza serta memfasilitasi pengiriman bahan bakar agar sistem kesehatan di sana tetap berfungsi.
Selain itu, WHO terus memperluas perawatan dan pengobatan darurat bagi para korban luka. Balkhy menegaskan pernyataan politik saja tidak cukup untuk mempertahankan operasi kemanusiaan. Ia mendesak adanya upaya perlindungan bagi layanan kesehatan, penyaluran bantuan kemanusiaan berkelanjutan, serta pencabutan pembatasan yang menghambat pasokan medis penting dan tim medis darurat. Balkhy juga meminta dukungan internasional untuk memulihkan dan memperluas layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan pada evakuasi medis, dan membuka kembali jalur rujukan dari Tepi Barat.
