Video viral yang menampilkan konflik antara ibu tiri dan anak tiri kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial, termasuk WhatsApp dan Telegram. Namun, di balik keramaian tersebut, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta sejumlah pakar keamanan siber memperingatkan masyarakat untuk ekstra waspada. Konten sensasional ini disinyalir kuat menjadi umpan baru bagi para pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan phishing.
Modus operandi yang digunakan cukup licik. Pelaku menyebarkan tautan palsu yang mengklaim sebagai sumber video lengkap, rekaman eksklusif, atau detail tersembunyi di balik perseteruan tersebut. Tautan ini biasanya disebarkan melalui pesan pribadi, grup chat, atau bahkan iklan di media sosial. Ketika korban mengklik tautan tersebut, mereka akan diarahkan ke situs web palsu yang dirancang menyerupai platform berita, media sosial, atau bahkan halaman login bank.
Ancaman Pencurian Data dan Malware
Tujuan utama dari serangan phishing ini adalah mencuri data pribadi korban, mulai dari username dan kata sandi akun media sosial, informasi perbankan, hingga kode One-Time Password (OTP). Tidak jarang, tautan tersebut juga dapat mengunduh malware atau virus ke perangkat korban tanpa disadari, yang berpotensi merusak sistem atau mengambil alih kendali perangkat.
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menekankan pentingnya verifikasi URL sebelum mengklik tautan apapun.
