PERUM Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara resmi menutup sementara kawasan Hutan Nyawang Bandung di Kampung Cipariuk, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Penutupan ini dilakukan menyusul maraknya aktivitas kendaraan offroad dan motocross ilegal yang memicu kerusakan lingkungan dan infrastruktur warga.
Keputusan tegas ini diambil tanpa batas waktu yang ditentukan, bertujuan untuk memulihkan ekosistem hutan serta memperbaiki jalur distribusi air bersih yang terdampak. Aktivitas kendaraan roda empat dan dua tersebut dilaporkan merusak akses jalan desa, meninggalkan lubang dalam yang menyulitkan mobilitas warga, terutama para peternak sapi yang mencari rumput. Selain itu, jaringan pipanisasi air bersih milik warga juga mengalami kerusakan serius.
Keluhan Masyarakat dan Upaya Perhutani
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang, Cucu Supriatna, menjelaskan bahwa penutupan ini merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas dan masyarakat sekitar. “Kami kolaborasi dengan komunitas dan masyarakat sekitar kawasan hutan, hari ini menutup akses masuk jalur-jalur ilegal offroad dan motocross. Memang ini dikeluhkan masyarakat merusak jalan dan lainnya,” ujar Cucu, Kamis (19/2).
Cucu mengakui bahwa pengawasan di lapangan menghadapi kendala serius. Meskipun Perhutani telah memiliki mitra resmi, Sapari Hutan, untuk mengelola aktivitas offroad secara legal di Bandung Utara, banyaknya pintu masuk ilegal atau jalur tikus membuat petugas kewalahan. “Untuk aktivitas cross liar itu memang sudah ada larangan Kementerian Kehutanan. Kelemahan kami di lapangan, terus terang petugas kewalahan karena tidak bisa setiap saat mengawasi setiap jalur masuk,” bebernya.
Sebagai langkah perbaikan, Perhutani bersama pengelola legal, Sapari Hutan, telah memulai perbaikan infrastruktur yang rusak secara bertahap. “Hasil pengecekan lapangan, kita gak menutup mata bahwa ada akses warga yang rusak serta pipa air rusak. Tapi kami bersama pengelola legal wisata offroad, Sapari Hutan kami lakukan perbaikan jalan serta penggantian pipa. Itu dilaksanakan bertahap,” jelas Cucu.
Rencana Jangka Panjang dan Harapan Warga
Ke depan, Perhutani berencana membangun portal permanen di titik-titik rawan pintu masuk ilegal. Dana pembangunan portal ini disebut berasal dari kontribusi kepedulian Koperasi Safari Hutan.
Di sisi lain, perwakilan warga Kampung Cipariuk, Dadang Aziz Muslim (50), menegaskan bahwa masyarakat tidak anti terhadap kegiatan wisata. Namun, ia menekankan pentingnya pengelolaan yang profesional dan bertanggung jawab. “Yang diharapkan masyarakat itu kondisi jalan, jadi kami tidak menutup akses di dalamnya. Namun jalan desa yang menjadi lintasan aktivitas offroad itu yang kami permasalahkan. Karena jalan jadi rusak. Ada beberapa ruas jalan termasuk di Lembang Asri,” tegas Dadang.
