Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengungkapkan bahwa sekitar 600.000 hektare (ha) lahan sawit di kawasan transmigrasi seluruh Indonesia kini telah produktif dan menjadi kontributor signifikan bagi devisa non-migas negara. Pernyataan ini disampaikan Viva Yoga di sela peringatan HUT Ke-45 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Dari total 3,1 juta ha kawasan transmigrasi yang tersebar di berbagai wilayah, sektor kelapa sawit terbukti memiliki peran strategis. Viva Yoga menekankan pentingnya pengembangan komoditas ini karena melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga petani swadaya.
Sawit sebagai Komoditas Utama dan Pencipta Lapangan Kerja
“Sawit itu menjadi komoditas utama untuk kontributor devisa non-migas terbesar di Indonesia. Jadi memang harus dikembangkan karena sawit ini kan bukan hanya untuk pengusaha, tapi juga menjadi milik negara (BUMN) dan petani sawit juga banyak,” ujar Viva Yoga Mauladi saat menjawab pertanyaan awak media di Pulubala, Gorontalo, pada Rabu (8/4/2026).
Selain sebagai penyumbang devisa, industri kelapa sawit juga diakui efektif dalam menciptakan lapangan kerja secara masif di wilayah-wilayah pelosok. Hal ini secara langsung berkontribusi pada upaya menekan angka pengangguran nasional.
Viva Yoga mencontohkan keberhasilan Program Inti Rakyat Trans (PIR-Trans) di Kabupaten Bungo, Jambi, sebagai bukti nyata peningkatan kesejahteraan. Melalui program ini, warga transmigran kini telah menjadi pemilik penuh atas lahan mereka setelah melalui periode kemitraan yang produktif dengan sektor swasta.
“Sawit bagi warga trans itu adalah seperti rejeki dari Tuhan. Mereka melakukan kerja sama dengan pihak swasta, bagi hasil dan untung, setelah sekian tahun tanah itu menjadi milik mereka sendiri,” jelasnya.
Tantangan dan Solusi Penataan Lahan
Pemerintah menyadari bahwa tantangan tumpang tindih lahan masih menjadi hambatan bagi kepastian investasi dan kesejahteraan warga. Oleh karena itu, Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk terus mengawal penyelesaian masalah lahan ini secara intensif.
Terkait target sertifikasi lahan, Viva Yoga menyebutkan bahwa pada tahun 2025, pemerintah menargetkan 13.751 bidang. Realisasi telah melampaui target dengan lebih dari 14.000 bidang yang tersertifikasi, dan proses ini akan diselesaikan secara bertahap pada tahun 2026. Selain melalui jalur yuridis, penyelesaian masalah lahan juga diupayakan melalui pendekatan adat untuk memastikan proses yang cepat dan harmonis.
Fokus Kementerian Transmigrasi ke Depan
Ke depan, Kementerian Transmigrasi tidak lagi sekadar berfokus pada pemindahan penduduk, melainkan pada peningkatan kualitas hidup di satuan pemukiman. Dengan pengembangan komoditas unggulan seperti sawit di Sumatera dan Kalimantan, padi di Papua, serta hortikultura di Sulawesi, kawasan transmigrasi diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri.
