Pemerintah Kota Semarang secara serius memperjuangkan Festival Dugderan untuk mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Indonesia. Upaya ini dilakukan mengingat tradisi pasar rakyat yang telah berlangsung berabad-abad ini tidak hanya menjadi daya tarik luar biasa, tetapi juga berhasil membangkitkan perekonomian lokal, khususnya menjelang bulan suci Ramadan.

Pasar Rakyat Dugderan: Magnet Ekonomi Jelang Ramadan

Pemantauan Media Indonesia pada Senin (9/2/2026) menunjukkan suasana sibuk di sepanjang Jalan Ki Nartosabdo hingga Jalan KH Agus Salim dan seputar Alun-alun Kota Semarang. Ratusan pedagang telah menata kembali dagangan mereka di tenda-tenda yang terpasang, bersiap menyambut pengunjung.

Meskipun belum mencapai puncak keramaian, Pasar Rakyat Dugderan yang diselenggarakan khusus sejak sepekan jelang Ramadan ini telah menjadi magnet bagi warga. Setiap siang hingga tengah malam, area pasar tetap ramai dipadati pengunjung.

Widodo, salah seorang pedagang, mengungkapkan antusiasme masyarakat. “Setiap hari ratusan ribu orang datang ke pasar Dugderan ini,” ujarnya.

Kisah serupa datang dari Musrikah, seorang pedagang gerabah yang sengaja datang dari Welahan, Demak. Ia bersama suami dan anaknya membagi lokasi berdagang di berbagai pasar rakyat jelang Ramadan. “Kami bersama suami dan anak berbagi pasar, suami saya di kegiatan Dandangan di Kudus dan anak di pasar rakyat Kaliwungu, pada Dugderan dan Dandangan tahun lalu, dari hasil satu pekan jualan gerabah ini kami dapat keuntungan lumayan senilai sepeda motor,” tuturnya.

Pedagang lainnya, Etik, warga Semarang, mengaku rutin membuka usaha di Pasar Dugderan setiap tahun. Ia bahkan meminjam modal dari bank untuk usahanya. “Kalau modal usaha saya pinjam ke bank, nanti selesai kegiatan dikembalikan,” imbuhnya.

Upaya Pengakuan Warisan Budaya dan Fungsi Ruang Publik

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti secara terpisah menegaskan pentingnya Festival Dugderan. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan rakyat, tetapi juga kesempatan bagi warga dari berbagai daerah untuk berbelanja kebutuhan Ramadan dan Lebaran.

Agustina Wilujeng Pramestuti juga menyoroti peran Dugderan dalam menggerakkan ekonomi. “Pemerintah Kota Semarang kini tengah memperjuangkan Festival Dugderan agar mendapatkan pengakuan yang lebih kuat sebagai Warisan Budaya Indonesia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Alun-alun Kota Semarang dapat dipergunakan secara maksimal sebagai ruang publik, termasuk untuk kegiatan Dugderan. Lokasi yang bersebelahan dengan Pasar Johar (cagar budaya) dan Pasar Kanjengan ini menjadikannya panggung rakyat yang membangkitkan ekonomi dan menampung ekspresi masyarakat.

Selain pasar rakyat yang berlangsung sepekan sebelum Ramadan, prosesi Dugderan juga menjadi daya tarik tersendiri. Tradisi arak-arakan Dugderan dilakukan sehari sebelum puasa Ramadan, di mana kepala daerah sejak berabad-abad lalu akan mengumumkan waktu dimulainya puasa kepada rakyat.

Sejarah dan Makna Mendalam Tradisi Dugderan

Tradisi Dugderan merupakan kegiatan khas Semarang yang telah berlangsung lama, tepatnya sejak tahun 1881. Kegiatan ini diprakarsai oleh Bupati RMTA Purboningrat untuk menandai awal bulan Ramadan. Pada masa itu, dengan keterbatasan alat komunikasi, pengumuman awal puasa umumnya dilakukan di masjid-masjid dan Masjid Agung untuk pemerintah kota/kabupaten.

Tujuan awal pelaksanaan Dugderan, yang kemudian berkembang menjadi keramaian pasar rakyat sepekan sebelum Ramadan, adalah untuk memberikan kesempatan kepada warga mengais rezeki. Dengan demikian, mereka dapat tenang saat menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh karena telah memiliki bekal yang cukup.

Pada masa itu, pasar Dugderan digelar di Alun-alun Kota Semarang, tepat di depan kantor dan rumah dinas Bupati Semarang (Kanjengan) serta Masjid Agung Semarang, dan di sebelah barat Pasar Johar. Berbagai barang kebutuhan rumah tangga, mainan anak-anak tradisional, hingga Warak Ngendok umumnya dijual di sana.

Warak Ngendok, ikon khas Kota Semarang, adalah mainan anak-anak yang terbuat dari kayu gabus. Bentuknya merupakan makhluk mitos gabungan naga (Tionghoa), kambing/kuda (Jawa), dan unta (Arab), melambangkan keharmonisan etnis di daerah ini, menjadikannya daya tarik luar biasa.

Nama “Dugderan” sendiri berasal dari kata “Dug” (suara bedug masjid) dan “Der” (suara letusan petasan). Bunyi-bunyian ini digunakan sebagai penanda dimulainya puasa Ramadan untuk menyampaikan penentuan awal puasa yang diumumkan di Masjid Agung Semarang.

Kini, Dugderan tetap dilestarikan sebagai warisan budaya tak benda (intangible heritage) Kota Semarang. Fungsinya sebagai pengikat sosial dan penggerak ekonomi lokal terus mempertemukan nuansa tradisi, sejarah, dan kegembiraan warga dalam menyambut bulan suci Ramadan.