Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mendesak Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hafidin untuk mengubah nasib para pekerja keramba jaring apung (KJA) di Waduk Cirata. Nanik berharap para pekerja tersebut dapat kembali menjadi pemilik dan pengusaha KJA, dengan hasil budi daya ikan yang akan ditampung oleh dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Waduk ini punya negara, maka kembalikanlah orang-orang yang sekarang ini hanya menjadi pekerja karamba ini menjadi pemilik, pemilik tempat ini,” ujar Nanik saat meninjau salah satu rumah KJA yang dihuni Asep dan keluarganya di tengah perairan Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat, awal pekan ini.

Tantangan Berat Petani KJA

Bertani ikan di KJA, khususnya di perairan seperti Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur, menghadapi berbagai tantangan. Petani membutuhkan modal awal sekitar Rp20 hingga Rp30 juta untuk memulai musim tanam, sebagian besar dialokasikan untuk membeli pakan ikan yang harganya fluktuatif. Panen rata-rata dilakukan setiap tiga hingga enam bulan sekali.

“Sekarang harga jual dengan harga pakan itu, mahal, Bu, beda jauh. Jadi ada ketimpangan di situ,” keluh Asep, seorang pekerja KJA, menggambarkan kesulitan yang dihadapi.

Selain masalah modal dan harga pakan, faktor alam juga menjadi kendala serius. Saat musim angin dan terjadi upwelling atau pembalikan air, sisa-sisa pakan dari dasar danau yang mengandung Sulfur Oksida (SO2) dapat terangkat naik dan meracuni ikan di dalam KJA yang tidak bisa bergerak. “Kalau ada balikan air seperti itu, ikan-ikan mati semua, dan kami rugi,” tambah Asep.

Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat pada pertengahan 2025 lalu mencatat, terdapat 86.437 KJA di Waduk Cirata. Jumlah ini dinilai jauh melebihi daya dukung waduk yang seharusnya hanya 21.792 KJA, menyebabkan pencemaran akibat pakan ikan yang masuk ke perairan.

Dari Pemilik Menjadi Pekerja

Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hafidin menjelaskan bahwa semula KJA di Waduk Cirata dimiliki oleh warga setempat. Namun, karena kerugian akibat kematian ikan massal, harga pakan yang mahal, dan kekurangan modal, banyak dari mereka terpaksa menjual KJA mereka kepada para “tauke” atau pemilik modal besar.

“Setelah dijual, mereka yang semula memiliki karamba ini, kemudian menjadi kulinya,” kata Abang Ijo.

Mendengar penjelasan tersebut, Nanik Sudaryati Deyang, yang juga merangkap sebagai Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), tampak sedih. “Sedih juga kalau gini… saya kira punya dia… ternyata pekerja,” ungkapnya.

Solusi dan Dukungan Program MBG

Nanik sangat berharap para pekerja KJA yang dulunya adalah pemilik dapat bangkit kembali menjadi pengusaha perikanan. Ia menyarankan Wakil Bupati untuk membantu menghubungkan mereka dengan Bank Himbara agar mendapatkan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah.

“Bank pemerintah itu boleh menyediakan KUR yang (bunganya) murah banget, ya. Supaya mereka ini didaftar, Pak… yang nggak punya mana yang punya mana… Pak Wabup hebat nih kalau bisa mengembalikan mereka menjadi pemilik lagi, menjadi pengusaha lah,” tegas Nanik.

Sebagai Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Nanik juga menegaskan bahwa hasil panen ikan dari petani KJA dapat dipasok ke dapur-dapur SPPG. “Nanti kita beli ikannya, ya, Bang… nanti kita beli ikannya… mana yang bujetnya masuk… kalau ikan emas kan mungkin mahal, jadi nanti bisa diarahkan ke banyak (ikan) patin…,” jelasnya.

Asep sendiri mengaku kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah menerima program MBG di sekolah mereka. Program ini, menurutnya, telah memotivasi anak-anaknya untuk lebih rajin sekolah. “Jadi di sini (program MBG) memotivasi anak-anak. Kalau nggak sekolah, (mereka) nggak dapat MBG. Jadi mereka semangat sekolah karena MBG,” kata mantan wartawan senior itu.

Sebelum meninggalkan rumah Asep, Nanik memberikan motivasi. “Pak semangat ya, Pak… Bapak nih ambil alih lagi punya sendiri, Nggak terus jadi pekerja… musti harus jadi bos… Menjadi bosnya sendiri lagi,” ujarnya.