Penyakit Septicaemia Epizootica (SE) atau yang dikenal dengan sapi ngorok, kembali menyerang ternak di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Sejak Januari 2026, sebanyak 131 ekor sapi dan kerbau dilaporkan mati akibat wabah ini, menimbulkan kerugian signifikan bagi para peternak.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur, Dodi Haryono, mengungkapkan bahwa penyebab merebaknya penyakit ini cukup beragam. “Penyebab munculnya penyakit SE ini cukup beragam mulai dari kurangnya kesadaran untuk memeriksakan kesehatan hewan ternak dan tidak mengandangkan hewan ternaknya,” kata Dodi di Bengkulu, Senin (9/2/2026).
Dodi menjelaskan, ternak sapi dan kerbau yang tidak dikandangkan atau dilepasliarkan sangat rentan terserang penyakit. Kondisi ini melemahkan imun hewan ternak karena kerap terpapar perubahan cuaca ekstrem seperti hujan dan panas.
Penyakit ini tersebar di tiga kecamatan. Kecamatan Tanjung Kemuning mencatat kematian tertinggi dengan 83 ekor, diikuti Luas dengan 42 ekor, dan Padang Guci Hilir dengan 6 ekor. “Setelah melakukan cek dilapangan rata-rata hewan ternak yang mati merupakan hewan ternak yang dilepas liarkan,” imbuhnya.
Pengandangan ternak menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah kontak langsung dengan hewan lain yang sudah terpapar SE. Selain itu, pengandangan juga memudahkan petugas kesehatan hewan dalam melakukan pemeriksaan, pemberian vitamin, dan vaksinasi.
Upaya Pencegahan Terus Digencarkan
Saat ini, upaya pencegahan terus digencarkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Kaur. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi:
- Penyemprotan disinfektan pada kandang dan lingkungan sekitar.
- Penyemprotan disinfektan pada tempat makan dan minum ternak.
- Penyemprotan disinfektan pada lokasi pengembalaan ternak.
- Pembatasan aktivitas jual beli hewan ternak dari luar daerah.
- Pelaksanaan vaksinasi massal.
