Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram mencatat kenaikan volume sampah hingga 5 ton per hari selama bulan suci Ramadhan 2026. Lonjakan ini membuat rata-rata harian sampah di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut mencapai 255 ton.
Kepala DLH Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, menjelaskan bahwa rata-rata volume sampah harian di Mataram biasanya berkisar 250 ton. “Namun, saat bulan puasa angka tersebut melonjak hingga 5 ton per hari,” kata Nizar di Mataram, Jumat (21/2/2026).
Lonjakan volume sampah tersebut didominasi oleh aktivitas pedagang musiman dan pedagang kaki lima (PKL) yang marak selama Ramadhan. Sampah takjil dan sisa dagangan menjadi penyumbang terbesar dari kenaikan ini.
Untuk mengatasi kondisi ini, DLH Mataram menyiagakan petugas pengangkutan di titik-titik keramaian PKL, terutama pada malam hari setelah aktivitas berbuka puasa dan pasar takjil selesai. Skema pengangkutan pagi dan malam hari tetap berjalan rutin demi menjaga kebersihan kota.
Nizar menambahkan, penanganan sampah dioptimalkan selama Ramadhan, termasuk pada momen pawai ogoh-ogoh, pawai takbiran, hingga pelaksanaan Idul Fitri. “Selama Ramadhan, momen pawai ogoh-ogoh, pawai takbiran, hingga pelaksanaan Idul Fitri, penanganan sampah kami optimalkan,” ujarnya.
Pihaknya optimistis operasional pengangkutan sampah akan kembali normal pada pertengahan bulan puasa. Optimisme ini muncul menyusul informasi dari Pemerintah Provinsi NTB mengenai progres signifikan pengerjaan landfill baru di Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok di Lombok Barat.
“Perkiraan kami saat ini progresnya sudah di angka 60-70 persen. Begitu tuntas, kami bisa langsung membuang ke TPAR dan ritase pengangkutan Insya Allah kembali normal,” jelas Denny.
Selama masa pengerjaan landfill baru, ritase pengangkutan sampah di Mataram mengalami penyesuaian. Dengan difungsikannya lahan baru, kendaraan pengangkut ditargetkan bisa kembali melayani hingga empat kali ritase per hari.
DLH juga telah menyiapkan skema cadangan untuk mengantisipasi jika TPA mengalami kendala teknis. TPS Bintaro masih disiagakan sebagai lahan antisipasi atau buffer zone.
“Jika ada kelebihan volume yang tidak tertangani segera, kami akan oper atau tampung sementara di TPS Bintaro,” kata Denny. Sementara itu, kondisi TPS di wilayah Sandubaya saat ini sudah penuh dan tidak memungkinkan lagi untuk diisi.
