Sebuah video yang memperlihatkan aksi kekerasan seorang terhadap anak tirinya di sebuah kebun sawit telah menggemparkan jagat maya, khususnya platform TikTok, sejak awal April 2026. Video yang viral tersebut memicu kemarahan publik dan desakan agar pihak berwenang segera bertindak.

Pelaku Ditangkap, Motif Terungkap

Kepolisian di , tempat insiden itu terjadi, bergerak cepat menanggapi laporan masyarakat dan viralnya video tersebut. Pada pertengahan April 2026, pelaku kekerasan yang diidentifikasi sebagai Siti (40) berhasil ditangkap. Korban, seorang gadis berusia 12 tahun yang disebut dengan nama samaran Bunga, kini dalam penanganan pihak berwenang.

Dari hasil penyelidikan polisi, motif di balik kekerasan tersebut terungkap sebagai kombinasi tekanan ekonomi dan dendam pribadi. Siti mengaku sering merasa tertekan secara finansial, diperparah dengan tuduhan bahwa Bunga kerap “mencuri” sedikit buah sawit untuk dijual. Selain itu, Siti juga menyimpan dendam lama terhadap ibu kandung Bunga yang telah meninggal dunia. Ayah kandung Bunga sendiri diketahui sering tidak berada di rumah karena tuntutan pekerjaan.

Reaksi Publik dan Desakan KPAI

Video yang menampilkan kekerasan verbal dan fisik ini dengan cepat menyebar dan ditonton jutaan kali, memicu gelombang simpati dan kemarahan dari netizen. Tagar #SaveBunga bahkan sempat menjadi trending topic di berbagai platform media sosial, menunjukkan betapa besarnya perhatian publik terhadap kasus ini.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut angkat bicara mengenai kasus ini. KPAI mendesak pihak kepolisian dan dinas terkait untuk memastikan perlindungan serta memberikan dukungan psikologis yang komprehensif bagi Bunga. KPAI juga menyoroti fenomena peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak, terutama anak tiri, yang seringkali diperparah oleh kondisi ekonomi yang sulit.

Kronologi dan Peran Tetangga

Terungkap pula bahwa video viral tersebut awalnya direkam oleh seorang tetangga yang sebelumnya telah menyaksikan beberapa insiden kekerasan serupa. Tetangga tersebut memutuskan untuk mendokumentasikan kejadian itu sebagai bukti, kemudian membagikannya kepada tokoh masyarakat setempat sebelum akhirnya video tersebut menyebar luas di TikTok. Peran aktif masyarakat dalam melaporkan dan mendokumentasikan kekerasan menjadi kunci dalam penanganan kasus ini.