PSIM Yogyakarta harus menelan pil pahit di akhir musim setelah takluk 1-3 dari Arema FC dalam laga pamungkas Super League di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jumat (22/5/2026). Kekalahan ini sekaligus memupus harapan Laskar Mataram untuk menembus posisi 10 besar klasemen akhir.
Pelatih PSIM, Jean-Paul Van Gastel, tak menutupi kekecewaannya terhadap performa anak asuhnya. Ia secara terang-terangan menyoroti hilangnya fokus para pemain sejak menit awal pertandingan sebagai penyebab utama kekalahan telak tersebut.
Van Gastel Soroti Kurangnya Konsentrasi Pemain
“Saya pikir di babak pertama tidak banyak pemain yang fokus dalam pertandingan dan kami langsung dihukum karena kesalahan sendiri,” ujar Van Gastel usai pertandingan, Sabtu (23/5/2026). Pernyataan pelatih asal Belanda itu menggarisbawahi rapuhnya pertahanan timnya yang langsung berbuah gol cepat bagi lawan.
Petaka bagi PSIM memang datang sangat dini. Laga baru berjalan dua menit ketika penyerang Arema FC, Joel Vinicius, berhasil membobol gawang PSIM setelah memanfaatkan umpan matang dari Dalberto Luan. Gol kilat itu membuat PSIM kesulitan mengembangkan permainan dan harus tertinggal 1-0 hingga turun minum.
Selain masalah fokus, Van Gastel juga menyoroti permainan fisik Arema FC yang dinilai sangat efektif dalam merusak ritme permainan timnya. Untuk mengejar ketertinggalan, PSIM mencoba tampil lebih agresif dengan perubahan strategi menyerang di babak kedua.
Namun, alih-alih bangkit, PSIM justru kembali dikejutkan gol kedua Arema FC yang dicetak oleh Dalberto Luan pada menit ke-48. Asa sempat muncul empat menit berselang ketika Deri Corfe berhasil memperkecil skor menjadi 2-1. Sayangnya, momentum tersebut gagal dimanfaatkan oleh tim tamu untuk menyamakan kedudukan.
Dengan hasil ini, PSIM Yogyakarta harus puas finis di posisi ke-11 klasemen akhir Super League dengan koleksi 45 poin. Sementara itu, Arema FC berhasil menutup musim di peringkat kesembilan dengan raihan 48 angka.

