Jalanan di sekitar pasar tradisional Pamanukan, Subang, Jawa Barat, mulai dihiasi pemandangan khas menjelang Hari Raya Idulfitri. Deretan anyaman janur kuning yang siap menjadi bungkus ketupat, hidangan wajib Lebaran, mulai dijajakan para pedagang musiman. Kehadiran mereka menjadi penanda tak resmi bahwa hari kemenangan semakin dekat, sekaligus menghidupkan kembali tradisi turun-temurun yang selalu dinanti.

Salah satu pedagang yang sibuk dengan anyaman daun kelapa adalah Enjang Wandi (43). Dengan cekatan, ia membuat bungkus ketupat berbagai ukuran dan corak warna, berharap dapat menarik perhatian pembeli. Sambil duduk beralaskan seadanya di pinggir jalan emperan pertokoan, Enjang mengungkapkan antusiasmenya menyambut Lebaran.

“Saya mulai menjual cangkang ketupat sejak Rabu kemarin,” kata Enjang saat ditemui di lapaknya pada Kamis (19/3). Ia menambahkan bahwa dalam sehari, dirinya mampu menghasilkan hingga 300 buah cangkang ketupat.

Enjang menawarkan harga yang bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp20.000 untuk satu ikat yang berisi 10 buah cangkang ketupat. Harga tersebut, menurutnya, sudah dipahami oleh para pembeli.

“Orang-orang sudah tahu, jadi dengan harga Rp15.000 hingga Rp20.000 per ikat berisi 10 buah, pembeli tidak pernah menawar lagi,” ungkap Enjang.

Meski demikian, Enjang merasakan adanya perbedaan suasana Lebaran tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap penjualan akan meningkat pesat dalam dua hari ke depan.

“Tahun lalu, tiga hari menjelang Lebaran cangkang ketupatnya sudah banyak terjual. Saat ini yang membeli baru sedikit, ya masih ada waktu dua hari lagi, semoga saja bisa laris sebelum Lebaran,” ujarnya penuh harap.

Suasana pasar Pamanukan memang semakin ramai. Para pedagang cangkang ketupat terlihat sibuk menganyam janur kuning, menciptakan pemandangan yang tak hanya menghidupkan perekonomian lokal, tetapi juga menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini terus berlanjut, menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Subang.