Universitas Kristen Maranatha (UKM) Bandung secara resmi mengukuhkan Ariesa Pandanwangi sebagai guru besar di bidang ilmu seni, desain, dan media. Pengukuhan ini diharapkan mampu mendongkrak kualitas riset serta inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat dan industri kreatif, mengingat Ariesa dikenal sebagai pakar bahasa rupa.

Rektor UK Maranatha, Frans Umbu Datta, menjelaskan bahwa prosesi pengukuhan berlangsung di Auditorium Prof. Dr. PA Surjadi, MA, pada Rabu (20/5). Momen ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Menurut Frans, kehadiran profesor baru ini menjadi angin segar bagi UKM dalam mendongkrak capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.

“Kami merasa bangga atas hal ini,” kata Frans pada Jumat (22/5). Ia menambahkan bahwa Ariesa Pandanwangi merupakan akademisi yang konsisten dalam menghasilkan penelitian dan karya kreatif yang memiliki dampak luas. “Beliau adalah kebanggaan kampus dan menjadi salah satu profesor seni yang sangat langka di Indonesia,” tegas Frans.

Bertambahnya guru besar ini, lanjut Frans, semakin mengukuhkan posisi UKM sebagai salah satu perguruan tinggi swasta papan atas di wilayah Jawa Barat dan Banten, terutama dalam aspek kualitas SDM dosen, publikasi ilmiah internasional, serta sinergi dengan dunia industri.

Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Maranatha, James Martin Aryadi Budiman. Ia menilai, peningkatan jumlah profesor menjadi bukti bahwa PTS memiliki daya saing yang kuat di kancah nasional maupun internasional.

Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Lukman, turut menyoroti kelangkaan profesor di Indonesia, khususnya di PTS. “Dari sekitar 30 ribu dosen yang tersebar di wilayah Jabar dan Banten, tercatat hanya ada sekitar 300 profesor aktif,” ungkapnya. Melihat kondisi tersebut, Lukman berharap pengukuhan ini dapat menjadi motivasi bagi para dosen muda di Jabar dan Banten untuk segera mengejar gelar akademik tertinggi.

Orasi Ilmiah: Bahasa Rupa dan Tantangan Global

Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Bahasa Rupa, Tantangan Global, dan Perlindungan Industri Kreatif”, Profesor Ariesa Pandanwangi menyoroti pentingnya menjaga bahasa rupa sebagai identitas budaya di tengah gempuran budaya visual modern. Ia mengungkapkan keprihatinannya karena generasi muda saat ini cenderung lebih akrab dengan simbol visual global ketimbang lokal.

Sebagai solusi, Ariesa menampilkan inovasi berupa batik kontemporer yang diangkat dari cerita tradisional Sunda dalam manuskrip kuno Bujangga Manik. Karya tersebut kini telah dikembangkan bersama mitra industri, sehingga mampu memadukan nilai keluhuran budaya dengan nilai ekonomi.

“Budaya lokal bukan penghambat kemajuan, tetapi justru menjadi sumber kreativitas yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Ariesa.