Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu memperkenalkan kekayaan budaya Etnis Kaili kepada mahasiswa internasional dari tiga negara Asia Tenggara. Pengenalan ini berlangsung melalui program Datokarama International Short Course (DISC) di Kampus II UIN Datokarama, Kabupaten Sigi, pada Senin (11/5/2026).

Mahasiswa dari Filipina, Malaysia, dan Thailand disambut dengan tarian Mokambu, sebuah tarian penyambutan tamu khas Kaili. Tiga mahasiswi UIN Datokarama, Hikmawati, Cahya Farhana, dan Khusnul Khatimah, memperagakan tarian tersebut dengan mengenakan pakaian adat lengkap Etnis Kaili.

Dekan Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Datokarama, Prof Saepuddin Mashuri, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertukaran akademik biasa. “Kegiatan yang dimulai hari ini bukan sekadar pertukaran akademik biasa, melainkan upaya strategis untuk memperkenalkan wajah Sulawesi Tengah kepada dunia internasional,” ujar Prof Saepuddin.

Program DISC 2026 diselenggarakan oleh Pusat Hubungan Internasional Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Datokarama. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari lima perguruan tinggi, yakni University of the Philippines, Benguet State University Filipina, Cordillera Career Development College (CCDC), University Islam Melaka Malaysia, dan Songkla University Thailand.

Selain tarian, FTIK UIN Datokarama juga memperkenalkan bahasa Kaili dan pakaian adat sub-Etnis Kaili Ledo kepada para peserta DISC. Pihak kampus turut mengenalkan nilai-nilai pelestarian lingkungan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kaili.

Prof Saepuddin berharap, pengalaman ini akan meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. “Melalui DISC, kami ingin mahasiswa dari Malaysia, Thailand dan Filipina pulang membawa cerita tentang keindahan budaya Kaili. Ini adalah cara kami membangun jembatan persahabatan melalui pendidikan dan kebudayaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan internasional ini spesifik untuk FTIK, dengan semua program studi mengusung tema solusi krisis ekologi. Pendekatan yang digunakan mencakup berbagai keilmuan, keagamaan, dan budaya.

“DISC menjadi kegiatan penting bagi perguruan tinggi membangun diskusi, bertukar pikiran dan pengalaman untuk menguatkan solusi terhadap krisis ekologi,” ucap Prof Saepuddin. Ia berharap program ini menjadi pendorong UIN Datokarama menuju perguruan tinggi terdepan di Asia Tenggara dan kampus maju di tingkat internasional.