Tujuh guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) asal Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, berhasil menarik perhatian publik setelah sukses meluncurkan seri buku cerita berjudul “Koding Kondang Sekaran”. Buku ini secara inovatif mengkombinasikan teknologi dengan kekayaan budaya lokal setempat, bertujuan untuk meningkatkan minat belajar anak serta memperkuat identitas dan jati diri daerah.

Integrasi Teknologi dan Budaya Lokal

Ketua tim penyusun buku, Nur Asmaiyah, menjelaskan bahwa seri buku ini dirancang khusus untuk anak-anak jenjang PAUD, TK A, dan TK B, yang berusia antara 3 hingga 6 tahun. Ia mengungkapkan motivasi di balik proyek ini.

“Ide pertama yang mendasari kami adalah bagaimana mengintegrasikan teknologi dengan budaya yang ada di Kecamatan Sekaran. Harapannya, peserta didik tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi, namun tetap memahami asal-usul dan identitas daerahnya,” jelas Nur Asmaiyah pada Rabu (8/4/2026).

Buku “Koding Kondang Sekaran” telah melalui proses pertimbangan yang matang, disesuaikan dengan standar capaian pendidikan anak. Kontennya kaya akan nilai budaya, tradisi masyarakat, sejarah, dan potensi yang ada di Kecamatan Sekaran. Selain itu, buku ini juga memperkenalkan makanan khas daerah seperti ikan keting dan ikan lele, serta buah-buahan lokal, sebagai bagian dari edukasi gizi bagi anak usia dini.

“Sebelum buku ini launching kami sudah mempertimbangkan seperti itu jadi 7 kebiasaan Anda Indonesia hebat yang menjadi program dari Kemendikdasmen juga turut serta ada dalam buku ini,” tambah Nur Asmaiyah.

Dukungan dan Tantangan Pembiayaan

Untuk tahap awal, tim berencana mencetak sebanyak 1.000 eksemplar buku yang akan didistribusikan pada tahun ajaran 2026/2027 untuk masing-masing jenjang usia.

Inovasi ini mendapat sambutan positif dari Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Lamongan, Anis Kartikawati Yuhronur Efendi. Menurutnya, penguatan muatan lokal dalam pendidikan sangat krusial agar generasi muda tidak kehilangan jati diri budayanya di tengah derasnya arus globalisasi.

Saat ini, TP PKK Kabupaten Lamongan tengah berupaya menyusun skema pembiayaan agar buku tersebut dapat dimiliki oleh anak-anak tanpa membebani orang tua. Oleh karena itu, pihaknya akan segera menggelar diskusi lanjutan untuk mencari solusi terbaik terkait pendanaan.

“Tadi juga sudah saya sampaikan dalam sambutan, ke depan kita akan terkendala masalah biaya. Maka nanti akan ada diskusi lagi, bagaimana manfaat dari tiga buku ini bisa dirasakan tanpa membebani wali murid,” pungkas Anis Kartikawati.