Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan meluapkan kemarahannya menyusul serangan Israel terhadap sebuah pabrik desalinasi di Iran beberapa minggu lalu. Insiden ini memicu kekhawatiran Trump terkait proporsionalitas dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Laporan dari Axios pada Selasa, 1 April 2026, mengutip seorang pejabat senior AS, mengungkapkan reaksi keras Trump tersebut. Pejabat itu menyatakan, “He wanted to make sure that everything was proportional in this war. That’s why he (Trump) was angry when Bibi (Netanyahu) attacked the desalination plant in Iran some weeks ago.”
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshn, Iran, menjadi sasaran serangan. Serangan Israel ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan antara AS, Israel, dan Iran.
Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan signifikan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran tidak tinggal diam dan membalas serangan tersebut dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel mengklaim serangan “pencegahan” mereka diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, belakangan mereka memperjelas bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk “membuat perubahan kekuasaan di Iran”.
